Jumat, 05 Juni 2015

MENJADI SEORANG PENULIS



A. Definisi Penulis


Penulis adalah orang yang memiliki keterampilan menuangkan ide, gagasan, segala apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan ke dalam bentuk tulisan baik tulisan fiksi maupun non fiksi. Yang harus digarisbawahi, bahwa apa yang dituangkan tersebut bisa bersumber dari hayalan, pengalaman dan kenyataan- kenyataan. 
Sebelum dituangkan ke dalam bentuk tulisan, segala hayalan, pengalaman dan kenyataan tersebut telah disaring melalui perenungan atau pertimbangan estetika (khusus untuk tulisan fiksi)  dan pertimbangan nilai- nilai faktual serta kesahihan data (khusus untuk tulisan non fiksi). Di samping itu pemilihan kata- kata (diksi) juga akan menentukan apakah tulisan yang dihasilkan bisa dibenarkan sebagai karya fiksi atau non fiksi.

B. Syarat- syarat Menjadi Penulis

Secara teknis, seorang penulis jelas harus menguasai teknik penulisan. Jika ia penulis fiksi,  ia kuasai teknis menulis puisi, cerpen, novel, novelet, roman,  atau naskah drama. Demikian pula jika ia penulis non fiksi, ia mestinya menguasai teknik penulisan naskah- naskah ilmiah semacam artikel, esai, reportase, features dan sebagainya.
Merujuk pada bagian A di atas, yang membedakan tulisan fiksi dengan tulisan non fiksi pada dasarnya ada dua yakni :
1. Tulisan fiksi merupakan tulisan yang dibangun dari hayalan, pengalaman atau kenyataan di sekitar penulis yang diterjemahkan ke dalam bentuk yang estetik
Sedangkan tulisan non fiksi merupakan tulisan yang dibangun dari kenyataan atau fakta yang diperkuat dengan data- data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

2. Karena tulisan fiksi menekankan nilai estetika, maka pemilihan kata- kata (diksi) juga harus seindah mungkin. Indah dalam hal ini dapat berarti bahwa kata- kata tersebut adalah kata- kata yang dibangun melalui penggayaan dan simbol dengan menggunakan majas- majas tertentu. 
Diksi dalam karya  fiksi juga harus diarahkan untuk mencapai kedalaman makna. Biasanya diksi semacam ini ada dalam puisi. 
Mungkin ada pertanyaan, bagaimana dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar ?
Dari masa ke masa banyak terjadi perubahan ejaan dan struktur Bahasa Indonesia secara umum. Hal ini harus diperhatikan oleh penulis. Namun yang jauh lebih penting adalah bahwa Bahasa Indonesia yang kita gunakan telah menjadikan :
1. Kata- kata atau kalimat dalam tulisan kita logis, tidak jungkir balik, tidak rancu
2. Mudah dipahami, dan pembaca mengerti apa yang hendak kita sampaikan
3. Majasnya tepat untuk maksud yang hendak kita diungkapkan.
Saya pikir berbagai perubahan ejaan dan struktur Bahasa Indonesia yang selama ini terjadi tidak pernah menjadikan orang tidak mengerti dengan misalnya makna kata : 
1. “mempengaruhi”, yang sekarang berubah menjadi “memengaruhi”
2. “rohaniawan” yang sekarang berubah menjadi “rohaniwan”
3. dan sebagainya.
Apalagi sekedar perubahan penulisan tanda baca, tanda kutip dan sebagainya, yang secara prinsip sama sekali tidak mempengaruhi tema maupun makna sebuah tulisan.

Sementara dalam tulisan non fiksi, tidak diperbolehkan ada penggayaan. Diksi yang digunakan harus sederhana, jelas, mudah dipahami, tidak simbolik serta langsung merujuk pada pokok persoalan yang hendak disampaikan dalam tulisan. Diksi yang digunakan harus pula menjelaskan dengan gamblang tentang data- data yang dipergunakan dalam tulisan tersebut.

C. Penulis Berkarakter

Karakteristik atau pembeda khas tulisan seseorang dengan tulisan orang lain sangat ditentukan oleh :
1. Tema diangkat
Fokus seorang penulis pada tema- tema yang diangkat dalam tulisannya dapat menjadikan penulis tersebut memiliki karakter yang berbeda dari penulis lain, walaupun satu angkatan. Contohnya penulis Angkatan Reformasi.
Widji Thukul beda dari Ahmadun Yosi Herfanda, karena karya- karya Widji bertemakan social politik, sementara Ahmadun mengedepankan kebebasan ekspresi dan pemikirannya.
Demikian pula antara Acep Zamzam Noer dengan N. Rianto. Acep dalam beberapa karya sajaknya berbicara tentang kepeduliannya pada kondisi bangsa, sementara N. Rianto cenderung menghadirkan tulisan religious dan sufistik.
2. Gaya tulisan
Pernah membaca karya- karya mbeling Sutardji Calzoum Bachri ? Dalam sajak- sajaknya seperti Ayo, Batu, Amuk dan sebagainya, Sutardji seperti bermantera, dengan kata- kata pendek dan patah- patah serta terkesan nyeleneh. Ini menjadi karakteristik karyanya yang berbeda dengan penyair- penyair lain.
3. Pemilihan kata (diksi)
Sekali lagi tentang diksi. Mau tidak mau, diksi adalah penentu karakter kepenulisan seseorang. Diksi yang kuat, menggigit, mampu membawa pembaca kepada tema dan makna yang hendak diungkapkan akan menjadikan seorang penulis berbeda dari penulis lain.
Diksi juga berhubungan dengan jenis tulisan yang ditampilkan. Saat Anda menulis karya fiksi, maka diksi yang Anda gunakan adalah diksi khas sastra, yakni estetis, mendalam, dan bahkan hemat tetapi kaya dengan makna.
Ketika Anda menulis karya non fiksi, misalnya reportase, maka diksi yang Anda gunakan adalah diksi sederhana, jelas, merujuk pada fakta serta menjelaskan peristiwa secara gamblang.
Bila Anda adalah penulis artikel ilmiah, diksi yang dipakai jelas harus diksi- diksi ilmiah. 

Mohon komentar. Mari kita berbagi ilmu dan pengalaman. 

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar