Tampilkan postingan dengan label Novel atau Roman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel atau Roman. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 September 2015

BENTENG (BAGIAN 2)



BAGIAN 2

Suryani, Ani, gadis tetangga. Orangnya hampir sebaya dengan Yar, lumayan cantik,  lembut, santun dan penurut. Pas sekali untuk  pemula seperti Yar  yang baru berusia sembilan belasan, baru belajar pacaran  dan tentu saja belum kenal banyak strategi untuk mengurus kecerewetan, tuntutan- tuntutan dan seribu satu wujud ego perempuan.
            Dua tahun begitu indah bagi Yar. Ia  mendapatkan kepatuhan dan timbal balik manis dari buaian hatinya itu. Yar  puas. Sampai muncul niat  Sang pecinta   mengawininya.
            Takdir menggariskan lain. Tanpa pernah ia duga, orang tua Ani  menolak dirinya  dan Ani masuk ke lingkaran pernikahan.
            “Selama ini kedekatan kamu dan Ani  kami anggap kedekatan kakak dan adik. Dan itu pengakuan Ani  sendiri.” Kata Sleman, bapaknya Ani ketika dengan gemetaran Yar mengungkapkan  hasrat   melamar gadis itu.
            Rasanya Yar  tak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Ani  bilang  hubungan kami cuma kedekatan kakak dan adik ?!
            “Benar kau bilang begitu pada bapakmu ?!” Sentak Yar  ketika bertemu Ani.
            “Ya, memangnya salah ?”
            Merah padam muka pemuda itu  menerima jawaban Ani. Jawaban yang menegaskan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
            Kelu kerongkongan Yar. Tak  bisa berkata- kata.
            “Saya tidak pernah menganggap Kakak sebagai pacar. Kakak menunjukkan kebaikan kepada saya. Saya pikir itu sekedar balasan Kakak atas kebaikan saya juga. Saya bantu orang tua Kakak di sawah tanpa mau dibayar, saya bantu emak Kakak kerja di dapur. Saat penyakit bapak Kakak kambuh, saya yang diandalkan emak Kakak untuk ikut merawat. Ya, wajar- wajar saja karena kita tetangga ! Lantas Kakak mengajak saya makan bakso, membelikan kebutuhan kosmetik,  menolong Bapak di sawah. Saya terima saja, apa salahnya ?!  
Saya tidak berperasaan  lebih  ketika kita jalan- jalan atau nonton bioskop. Pernahkan kita berduaan dan mesra- mesraan, yang berlebihan ? Tidak, kan? Selalu ada teman perempuan saya yang ikut. Lagi pula apa Kakak lupa bahwa Kakak tidak pernah mengucapkan kata  cinta pada saya ?!”
Itu deretan kalimat pembelaan diri Ani yang lebih sebagai ledakan bom di telinga Yar.
            Yar  tidak mampu memperpanjang pembicaraan. Kecewa, malu, marah mencengkeram dadanya.  Apalagi ketika beberapa temannya mengetahui persoalan itu. Sindiran, simpati yang mengejek, tiap hari mendera telinganya. Ujungnya sumpah serapah pada diri sendirilah yang  menggelora dalam batin Yar, atas ketololannya  sekian lama, yang terlena dalam cinta sepihak, dalam keyakinan  bahwa sikapnya  telah menjatuhkan hati gadis itu tanpa harus diawali dengan kalimat  ’i love you’,  plus berkeranjang- keranjang  bunganya.
            Ani  kemudian akan  menikah   dengan sepupunya.
Habis harapan Yar. Ia berjuang memangkas dan mengubur bunga- bunga duri kegagalan. Pada akhirnya berhasil  juga. Ia  maafkan Ani dengan berpegang pada  prinsip ‘bukan jodoh’, ‘menjaga persaudaraan dan ukhuwah’.
Sayangnya Ani kembali menikamkan belatinya ke luka orang yang tulus mencintainya itu.
Selembar kertas yang dilipat kecil ia lemparkan ketika Yar  lewat depan rumahnya.
Salam buat emakmu. Jangan datang lagi ke rumahku seperti kemarin jika cuma hendak  menyesali aku yang mengkhianati kamu, yang  telah mengecewakan kamu. Calon suamiku mengancam tidak akan jadi menikahi aku, sebab ia tidak senang emakku masih meladeni pembicaraan tentang kamu  dalam hari- hari persiapan pernikahan kami.
Aku sadari bahwa memang benar aku mengkhianati kamu, sebab selama ini aku pun memiliki perasaan sama seperti yang kau rasakan. Aku juga telah menganggap kamu pacarku. Tapi apakah salah jika aku berubah pikiran, jika akhirnya  aku mengikuti keinginan orang tuaku  yang lebih  memilih sepupuku sebagai suamiku ? Mereka menginginkan  agar harta kakek kami yang banyak tidak berbagi ke rumpun lain, Yar. Aku rasa itu masuk akal. Makanya aku pun setuju.
Maaf, aku harus jujur, Yar, aku pun tidak punya keberanian untuk bersuamikan  lelaki  yang tidak mapan. Aku tak ingin rumah tanggaku tersisih dalam pandangan masyarakat karena kemelaratan.   
            Tak akan dilupakan seumur hidup oleh Yar  bagaimana emaknya menangis ketika membaca kata- kata itu.
            “Maafkan emak. Kemarin emak  tidak bisa menahan hati atas  sikap Ani  dan orang tuanya yang emak tahu pasti mempermainkan  kamu ….” Rintih perempuan itu.
            Kepercayaan diri Yar  jatuh. Terlebih ketika beberapa hari kemudian Ani melangsungkan pernikahan. Ia trauma dan memutuskan tak berhubungan dengan perempuan. Ia pun    jarang di rumah. Waktunya  lebih sering dihabiskan di ladang, menyembunyikan kegalauan,  mengalihkan perhatian  dengan  merawat tanaman  sayur- sayuran.-

 *
BACA SELENGKAPNYA ?

BENTENG (BAGIAN 1)



KATA PENGANTAR 

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberiku kelapangan pikiran, perasaan   dan waktu  untuk berkarya.
Buku roman sederhana ini   bertutur tentang   determinansi- determinansi dan kekalahan yang dialami  manusia menghadapi realitas  transisi masyarakat dan psikologinya sendiri.
Semoga diterima oleh para penikmat sastra. 

Yin Ude


SINOPSIS

Yar, seorang pemuda dari keluarga miskin di kecamatannya. Ia selalu mengalami kegagalan dalam hubungan asmara, karena ditolak atau ditinggal kawin oleh orang yang ia cintai. 
Suatu saat ia berhasil mencapai kegemilangan sebagai sastrawan dan wartawan. Ia gunakan kegemilangannya itu untuk menunjukkan harga diri dan keluarganya kepada masyarakat sekitarnya. Tetapi tanpa disadarinya, sikap dan tindakannya membuat dia tampak sebagai orang yang melawan arus perubahan di kecamatannya. Ia dimusuhi. Orang tuanya pun menentangnya. Yar terlibat konflik dengan warga kecamatan, bapak dan emaknya.
Salah seorang musuhnya adalah anggota dewan bernama Abduh, yang juga bapak Nur, mantan kekasih Yar.
Abduh menuduh Yar telah mempengaruhi Nur, hingga anaknya itu bunuh diri menjelang perhelatan pernikahannya.
Yar dan kakaknya, Sri,  tewas di tangan orang suruhan Abduh, yang suatu malam datang menyerang dan membakar tempat tinggal Yar. 


BAGIAN 1

Maafkan aku
Aku  sadar ini akan sangat menyakitkan 
Tapi inilah takdir dan aku  tak dapat menolaknya.
Aku  telah menerima lamaran seorang lelaki, dan rencananya dua bulan lagi kami menikah.
Bukan, bukan karena kamu   tidak pantas menjadi pendamping hidupku. Sekali lagi bukan ! Kamu tahu bagaimana besarnya cintaku. Bahkan kamu tentu ingat pula bagaimana seringnya aku bicara tentang pernikahan, mengajak kamu membayang- bayangkan asyiknya kita membangun keluarga , dengan anak- anak kita yang lucu .
Masalahnya, oh, saat ini aku  tidak sanggup  mengungkapkannya. Biarlah besok lusa kuterangkan.
Aku  tidak bisa berharap banyak kamu akan percaya pada apa yang akan kusampaikan, tidak bisa pula bisa meyakinkan  diriku sendiri bahwa aku akan tahan  melihat kau kecewa.
Tapi masih ada keyakinanku  bahwa kamu  tidak akan selamanya  membenci aku setelah tahu aku pun sangat tersiksa.
Sekali lagi, maafkan aku.
Doaku , selalu.
Nur

“Munafik !”
Dugg !
Habis memaki, tinju Yar menghantam dinding kamar. Wajah pemuda itu merah padam. Kemarahan, kekecewaan, kepedihan menumbuk- numbuki batinya.
“Jalang ! Penghianat !” Umpatnya  sangar.
Bias kuning pucat matahari senja yang menerobos jendela di hadapan lelaki empat puluhan itu makin mempertegas rona mukanya yang menegang.
Dugg ! Sekali lagi kepalannya menubruk keras dinding tembok  itu.
“Yar, suara apa itu ?!”
Yar menoleh ke pintu yang segera terbuka dan menampakkan emaknya yang menatap dengan tanda tanya.
“Surat dari perempuan lagi ? Kecewakan kamu lagi ?” Meluncur pertanyaan dari bibir perempuan tua itu. Tapi di telinga Yar bukan pertanyaan yang mendarat. Si Emak mengejeknya !
“Emak keluar saja.” Sahut Yar, datar.
Kertas surat yang ia genggam kini diremas- remasnya. Sesaat kemudian sebentuk gumpalan melayang  ke genangan bekas hujan di  halaman samping.
Emak terkekeh. Sinis.
“Kalau bapakmu masih hidup, dia akan akan kecewa sekali melihat turunannya banci.”
“Emak keluar saja.” Balas Yar agak keras.
“Memalukan. Tiap ada masalah dengan perempuan selalu mengurung diri, selalu meninju- ninju tembok  kamar, selalu meratapi nasib …”
“Tolong Emak biarkan saya sendiri !” Sentak Yar lebih  keras, menegaskan ketidaksenangannya pada kalimat- kalimat  yang dilontarkan emaknya.
“Lalu kau maki  tiap perempuan yang mengecewakan itu. Kau salahkan Sumi, Zubaedah, Nur ! Kau pikir tak ada kesalahan pada dirimu sendiri. Kau itu terlena dengan kebesaran diri sendiri, lalu kau angkuh, lalu  seenaknya menghukum orang lain  yang tanpa kau sadari memunculkan kebencian orang- orang padamu. 
Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anak gadisnya tersisih dari masyarakat karena menjadikan kamu suami !   ”
Tangan Yar gemetar. Mengepal.
“Kau tinjulah dirimu sendiri ! Tinju keangkuhanmu!”
Tajam mata Yar menyorot emaknya. Tapi perempuan itu berbalik dan meninggalkan pintu kamar.
Yar menghempaskan tubuh kurus pendeknya ke dipan. Tapi sebentar, ia bangkit dan berdiri lagi, membuka lemari, mengambil tas besar, memasukkan beberapa potong pakaian, buku- buku, setumpuk kertas, balpoin, laptop dan topi.
Pandangannya terhenti sejenak pada tulisan bordir di kening topi itu. AKHYAR. Di bawahnya, KOMUNITAS SATRAWAN  KIRI.
Selanjutnya dengan langkah bergegas ia tinggalkan rumah.

*
Dering keras hp di atas dipan di samping Yar memecah keheningan kamar rumah panggung kecil itu, keheningan malam bukit tempat berdiri.
Yar menjangkaunya tanpa melepaskan tatapan ke layar laptop yang sudah dua jam lebih ia hadapi di lantai.
“Tunggu saja aku di situ !” Serunya gusar begitu hp ia genggam dan dispeaker. Tanpa salam terlebih dahulu.
“Sorry, Bos. Tinggal Mas Yar yang belum datang sampai saat ini.” Sahut lawan bicaranya. “Sudah kuat indikasi pemkab menyisihkan  anak- anak komunitas dari daftar utusan Lomba Sastra  Kayu Tanam. Teman- teman pengurus sepakat akan mengambil sikap keras. ”
Yar diam. Sinar lampu balon menyorot bibirnya yang menyunggingkan senyum sinis.
“Tahu ndak ? Opini bahwa kita kiri sekiri- kirinya sudah dikembangkan betul oleh petinggi- petinggi daerah yang sok cemas itu. Orang- orang  pemerintahan, keamanan, kebudayaan dan elit- elit LSM mulai saling angguk.”
Yar masih dengan diamnya, dengan sinisnya.
“Gimana ini ? Tinggalkan kota kecamatan sehari dua hari, datang  ke kota kabupaten, biar kita bisa bahas masalah ini !” Desak suara di seberang.
Yar justeru matikan hp dan meletakkannya kembali di dipan.
Alat komunikasi itu berdering lagi. Berulang- ulang. Yar tidak peduli, sampai berhenti sendiri.
Lolong anjing dari arah hutan belakang rumah dan ting tong jam di dinding hampir bersamaan mengisi sepi. Pukul tiga lebih.
Yar bangkit, membuka jendela. Udara dingin segera menyergap tubuhnya. 
Pandangan Yar melayang ke angkasa. Kosong, beradu  gelap citra langit. Pelan- pelan gerimis menegas dalam kabut. Tempias disapu angin musim penghujan yang menderas. Tempias ke wajah wajah pemuda itu. Guruh dalam batinnya. 
Digeleng- gelengkan kepalanya, mencoba  mengusir kehampaan yang memuncak.  Tapi seperti sudah- sudah, kehampaan itu tetap tinggal dan mendera batinnya.  Ujungnya ia cuma bisa mendesah.
Yar merasa jiwa dan tubuhnya begitu  lemah sejak menerima surat putus dari Nur, empat hari lalu.
Gadis itu, yang begitu ia yakini kesetiaannya,  pada akhirnya menambah pula daftar  kekalahan buatnya. Kekalahan dalam  meraih cinta sungguh- sungguh, kekalahan dalam perjuangannya menunjukkan diri sebagai lelaki yang  dianggap oleh perempuan, dari saat ia bukan  apa- apa di mata orang hingga setelah ia menjadi penyair dan wartawan ternama.  
“Semua sama munafiknya.” Sentak hati Yar. 
Semuanya  menilai hubungan sebatas enaknya di pikiran dan perasaan mereka sendiri….
Aku dinilai  angkuh ? Apa definisi angkuh itu ? Tampilan kesombongan, ketidakramahan, ketidakakraban,  ketidakpedulian pada pikiran, perasaan dan keinginan  orang lain, berdasar kebesaran  diri, keakuan, egosentrisme ?  Baik, aku iyakan saja.  Aku yang hari ini telah menjadi penyair ternama dan wartawan  disegani,  melangkah dengan muka tegak lurus ke depan di tengah- tengah alam kota kecamatan ini dan manusia- manusianya,  membanggakan  bayang- bayang diriku sendiri yang menguasai penjuru. Kenapa tidak ? Bukankah wajah- wajar saja aku ingin menunjukkan kegemilangan diri  kepada kecamatan ini  dan manusia- manusianya yang dulu merendahkan aku dan keluargaku? 
Kebesaranku, keangkuhanku telah membuat aku  menghukum orang seenakku sendiri ? Orang- orang membenci aku ?  Ya, ya, aku sadari itu. Aku sadari  kebencian orang-orang sok berkuasa kecamatan, pejabat –pejabat kecamatan, pejabat- pejabat kabupaten  yang terus- terusan dan akan  selalu aku tikam dengan belati sajak dan beritaku. Bukankah itu yang seharusnya kulakukan ?  Inilah perlawananku, perlawanan yang mestinya juga dilakukan penyair lain, wartawan lain , orang- orang lain dengan apa yang ada pada mereka,  terhadap  suasana – suasana busuk negeri ini, terhadap siapa pun, apakah itu warga biasa yang menekan warga lain karena kelebihan pada dirinya  maupun pejabat- pejabat yang memunculkan kebusukan dengan tingkah pola mereka yang keranjingan bermain  di balik aturan, perda, undang- undang ! Tak terasakah oleh Emak, betapa lembaga- lembaga pemerintah telah menjadi kandang serigala,  yang pernah  juga memburu  beliau dan  Bapak di ladangnya hingga harus berkali- kali berpindah, membuka kembali lahan baru di atas kenangan menyakitkan ladang lamanya yang siap panen tapi diratakan eskavator  kontraktor pertambakan ?   Rasa keadilan orang- orang tak berdaya, orang- orang miskin, pedagang kaki lima, kaum buruh, para petani kecil yang dicabik- cabik dalam ketidakberdayaan  dengan kekuatan cakar serta aturan rimba yang dibuat- buat  dalam lembaga itu ! Hei, inilah  semangat pemberontakan,   yang memang kubiarkan berkembang, agar mereka, orang- orang yang kulawan itu sadar bahwa di tengah rimba yang mereka cipta telah muncul kupu- kupu mutan, yang kecil,  yang dipandang tak berdaya, namun berurat daging  baja, dengan sayap- sayap yang dapat menjelma pedang- pedang  tajam,  yang mampu mengiris  hati sombong  mereka dan  mencacah  jantung- jantung  keserigalaan mereka. 
Duh,  tidakkah pacar- pacarku, orang tua dan keluarga mereka mengamini dan menghargai ketidakangkuhanku  terhadap mereka ! Aku penurut, lebih banyak mengalah pada mereka,  dan  mereka katakan sendiri aku lelaki yang pandai memanjakan perempuan sekaligus pintar mengambil hati orang tua dan keluarga mereka ! 
Mereka takut akan dijauhi orang- orang karena menjadikan aku suami, menantu  seorang pemberontak ?  Nampaknya baru namaku yang digurat angin  sebagai  mujahid di bentang padang  jihad sosial negeri ini.
Ah, keangkuhanku, siapa pun tak tahu riwayatnya, bagaimana kelahirannya, bagaimana ia   telah berjasa besar membuat aku merasa berharga di hadapan segala yang membuat aku dan keluargaku kalah di masa lalu. Termasuk di hadapan Ani, orang yang dulu pertama kali menendang aku masuk kubangan tinja !-


**



BACA SELENGKAPNYA ?