Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2015

SANRO SANG PENYELAMAT YANG IHLAS

A. DEFINISI
Kemajuan ilmu kesehatan dan pola pikir masyarakat Empang -Tarano  ternyata tidak menggeser kepercayaan kepada dukun. Dalam bahasa setempat (bahasa Sumbawa), dukun disebut  ‘sanro’. 
Umumnya sanro adalah laki- laki. Terdapat sanro perempuan, namun jarang.  Usia sanro rata- rata di atas empat puluh tahun. Sedikit sekali sanro yang berumur di bawah empat puluh.

B. METODE PENGOBATAN SANRO
Seperti dukun di daerah- daerah lain, sanro adalah seseorang yang memiliki ilmu penyembuhan penyakit secara gaib. Maka metode pengobatan sanro adalah metode gaib yang didukung dengan penggunaan berbagai macam ramuan tradisional. 
Metode gaib dalam praktek pengobatan sanro tercermin pada penerapan : 
a. Doa atau mantra
b. Lelaku khusus seperti sholat dan munajat kepada Allah

C. SUMBER ILMU SANRO
Ilmu penyembuhan yang dimiliki oleh seorang sanro diperoleh dengan dua cara yakni :
a. Secara sengaja
Seorang yang hendak menjadi sanro akan berguru kepada sanro yang mumpuni di bidangnya. Tidak tertutup kemungkinan gurunya lebih dari satu orang, tergantung pada kemauan seseorang untuk mempertinggi ilmu sanronya dan jenis- jenis penyakit yang ingin ditangani.
Pada jaman dahulu, untuk memperoleh satu jenis ilmu sanro saja sangatlah sulit, sebab tidak semua sanro mumpuni bersedia membagi ilmunya kepada orang lain. Untuk bisa berguru, seseorang harus rela mengunjungi  daerah- daerah yang  jauh, yang menjadi tempat tinggal sanro mumpuni. Bisa pula seorang murid harus bersedia tinggal di kediaman gurunya dalam waktu lama dan mengabdi membantu pekerjaan sehari- hari sang Guru. Harta benda pun siap dikorbankan demi mendapatkan  ilmu sanro yang diharapkan.
Ada sebait mantra pelet yang dulu diyakini sangat digdaya untuk memikat hati perempuan, yang bunyinya :
Katupa katapa
Katangan bao batu
Kalupa gama ina kalupa gama bapak
Saruntung angan ko aku
Konon untuk mendapatkan sebait mantra ini, seseorang harus membayar ‘mahar’ yang mahal kepada sanro yang menguasai  mantra tersebut. Bisa sampai senilai satu ekor kuda atau kerbau. Namun harus digarisbawahi, ‘mahar’ yang dimaksud umumnya tidak diminta oleh sang Guru, tetapi  lebih sebagai  pemberian ikhlas, wujud  tanda terima kasih si Murid karena gurunya bersedia membagi ilmu kepadanya. Bahkan bisa jadi hanya perlambang, tentang besarnya perjuangannya yang harus dilakukan seseorang dalam berguru ilmu sanro. 

Sulitnya berbagi ilmu bagi seorang sanro mumpuni terkait riwayat sulitnya sanro bersangkutan  ketika dulu ia mempelajari ilmu tersebut. 
b. Secara tidak sengaja
Ilmu sanro yang diperoleh dan dikuasai oleh seseorang secara tidak sengaja berasal dari hubungan tidak sadarnya dengan alam astral. 
Ada seseorang yang pada awalnya sama sekali  tidak memiliki ilmu sanro, tiba- tiba bisa mengobati penyakit. Orang tersebut mengaku bahwa sebelumnya ia bermimpi, dimana dalam mimpinya tersebut ia  melihat atau mendengar  petunjuk tentang  doa, mantra, sesuatu yang bisa menyembuhkan atau bahkan cara mengobati  suatu jenis penyakit. 
Ketika bangun, orang tersebut meyakini bahwa ia telah mendapat wangsit atau hidayah, lalu ia pun mencoba menerapkannya pada orang yang  menderita penyakit tertentu dan si Penderita pun sembuh. 
Berdasarkan pengalaman ini, mulailah tumbuh kepercayaan masyarakat sekitar terhadap dirinya. Ia pun digelari ‘sanro’ oleh masyarakat sekitar.  

D. KETENTUAN  UNTUK BERGURU ILMU SANRO
Ada dua ketentuan umum untuk berguru ilmu sanro, yakni :
a. Ketentuan waktu dan tata cara
Waktu untuk  berguru ilmu sanro tidaklah sembarangan. Ada waktu- waktu tertentu yang diyakini ‘berkat’ (berkah) untuk ‘serah terima’ ilmu dari guru kepada muridnya. Umumnya adalah pada malam- malam tertentu di bulan Muharram, atau jika di luar bulan Muharram, biasanya  pada malam Jumat.
Tata cara serah terima ilmu beragam, tergantung pada sang Guru. ‘Paket’ tata cara yang umum dalam berguru ilmu sanro adalah 
(1) murid diajarkan doa atau mantra serta ramuan- ramuan tradisional pendukung 
(2) murid dimandikan sebagai sarana memasukkan atau melekatkan  ilmu tersebut secara gaib ke dalam raga si Murid
(3) serah terima, dengan cara guru dan muridnya duduk  mempertemukan lutut dan bersalaman sebagai tanda ilmu diserahkan dan diterima. Tentunya disertai kalimat- kalimat yang menegaskan serah terima dimaksud.
Membawa  barang atau benda tertentu  kepada guru termasuk pula ketentuan dalam berguru ilmu sanro. Jenis dan jumlahnya beragam. Misalnya seorang guru mensyaratkan murid membawa ‘ayam pisak selasi’ (ayam yang bulu dan sekujur badannya berwarna hitam), membawa pinggan putih polos, kain sarung dan sebagainya. Barang dan benda yang dibawa ini akan menjadi ‘properti’ pelengkap ritual dalam proses- proses perguruan. 
b. Ketentuan personal orang yang berguru atau murid
Ketentuan personal  ini berhubungan dengan karakteristik mental, moral dan batin seorang murid, baik saat masih sebagai calon murid maupun setelah diserahi ilmu sanro.
Seorang sanro mumpuni yang bertindak sebagai guru akan menyaring  dengan seksama siapa orang yang boleh menerima ilmunya. Saringannya ada pada terawangan sang Guru tentang sosok calon murid yang datang padanya. Si Calon murid haruslah bermental kuat dan tenang, ahlaqnya baik, rajin beribadah, serta yakin akan kebenaran serta kedigdayaan ilmu yang akan dipelajari. 
Ketekunan seseorang dalam beribadah menjadi salah satu faktor penting  baik untuk diterima sebagai murid maupun untuk digdayanya ilmu sanro yang telah ia terima. Sanro  yang seluruhnya muslim dan hidup di Tana Empang- Tarano yang religius memilki prinsip kuat bahwa segala ilmu yang ada pada dirinya semata- mata berasal dari Allah. Mujarab atau tidaknya hanya Allah yang menentukan. Keberadaan  sanro hanyalah sebagai manusia biasa yang kebetulan diijinkan oleh Allah untuk menguasai ilmu sanro.
Inilah sebabnya rata- rata sanro adalah orang yang telah dewasa atau berusia di atas empat puluh tahun. Tidak dipungkiri kedewasaan dan usia yang sudah cukup mempengaruhi  keyakinan seseorang pada ilmu, pada kekuasaan  Allah serta  kemantapan mentalnya menerapkan ilmu yang ia miliki.
Keyakinan akan kekuasaan Allah  serta kemantapan mental  sanro dalam menerapkan ilmu tercermin dalam sikap merendahkan diri di tengah masyarakat. Ia yakin akan kemampuannya menyembuhkan suatu jenis penyakit, namun ia tidak akan serta merta menawarkan diri (samonga ilmu- istilah setempat) untuk menyembuhkan seseorang. 
Samonga ilmu merupakan perilaku tabu. Namun jika dimintai tolong, sanro akan dengan ikhlas memberikan bantuan.

E. KLASIFIKASI SANRO
Dari segi sumbernya, penyakit non medis yang dikenal oleh masyarakat Empang- Tarano terbagi atas tiga jenis yakni :
a. penyakit akibat  pengaruh makhluk halus. Masyarakat setempat menyebutnya ‘ka bowat jin setan’
Penyakit akibat pengaruh makhluk halus  berhubungan erat dengan masih berlakunya kepercayaan dinamisme di tengah masyarakat Empang dan Tarano. 
Seseorang bisa mengalami sakit karena ada makhluk halus  yang mengganggu, menyerang atau merasukinya. Penderitaan yang dialami  bisa berbentuk kesurupan, rasa sakit atau kelainan- kelainan pada tubuh yang muncul secara mendadak, yang  biasanya  dikaitkan apa yang  telah dikerjakan oleh penderita dan di lokasi mana. Penderita mungkin saja telah melakukan hal- hal yang ‘mengundang ketidaksenangan’ makhluk halus penunggu tempat- tempat tertentu yang dianggap keramat, seperti kebun yang memiliki penunggu, buen (perigi) keramat, pohon yang dihuni makhluk halus atau roh- roh dan lain- lain. 
Sakit akibat pengaruh jin ada dua macam, yakni sakit akibat ‘kena tada’ (diserang) makhluk halus dan sakit akibat ‘kamabas’ (terserempet) energi makhluk halus. Pengobatan dilakukan dengan merapal mantra- mantra pengusir makhluk halus, yang bisa pula diikuti dengan mengantar sesajian (‘me ancak’- bahasa setempat) ke lokasi tempat bersemayamnya makhluk halus penyebab gangguan. 
b. penyakit akibat serangan ilmu hitam. Masyarakat setempat menyebutnya ‘ka bowat tau’.
Ilmu sanro  ada yang berupa ilmu positif, yang bersifat menyembuhkan, dan ada pula yang bersifat negatif, yang menyakiti atau merusak. Yang bersifat negatif ini disebut ilmu hitam.
Ada berbagai penyakit yang disebabkan oleh pengaruh ilmu hitam baik yang sengaja ‘dikirim’  untuk menyakiti (santet, teluh) maupun yang tidak . Yang sengaja ‘dikirim’ misalnya leyak, bengik dan parubu. Yang tidak sengaja dikirim, namun bisa mengenai orang lain karena sebab tertentu adalah bura dan soke. Diyakini bahwa media ‘pengiriman’ santet atau teluh adalah angin dan minyak. Bisa pula dengan cara menanam benda- benda tertentu di bagian tertentu rumah korban. Benda- benda tersebut memiliki kekuatan  gaib  serta berefek menyakiti. 
Untuk menyembuhkan penyakit ‘kiriman’, seorang sanro haruslah benar- benar digdaya, sebab dalam proses pengobatan ia akan berhadapan dengan sanro lain yang menjadi sumber penyakit tersebut. Kedua sanro bertarung  jarak jauh secara gaib.  Tidak jarang, seorang sanro yang  kurang  digdaya akan  kalah dan justeru dirinya yang menjadi korban. Istilahnya sanro tersebut ‘kena popo’, atau sakit, bahkan meninggal dunia karena diserang lawannya.
c. penyakit non makhluk halus  atau non ilmu hitam
Beragam penyakit non makhluk halus atau non ilmu hitam yang dikenal oleh masyarakat Empang dan Tarano. Contohnya  antara lain padau dan  nare. Padau adalah penyakit  dengan ciri sekujur badan atau bagian tertentu dari badan mengalami rasa sakit  yang menusuk. Penyebabnya adalah kerja yang berat dan dengan intensitas tinggi  atau bisa pula akibat udara dingin. Penyakit ini disembuhkan oleh sanro padau. 
Biasanya sanro padau akan mendeteksi terlebih dahulu bagian badan yang sakit, apakah benar padau atau tidak. Alat pendeteksinya adalah daun sirih, yang diletakkan di bagian badan yang sakit dan ditarik menurun secara pelan- pelan. Jika benar padau, maka daun sirih tersebut akan tertahan di titik sakit. Sanro pun akan membaca mantra padau lalu meniupnya dengan pola tiupan tertentu. Jika sudah diobati oleh sanro, biasanya rasa sakit padau akan spontan berkurang. Satu dua hari kemudian sembuh total.
Nare biasanya diderita oleh wanita yang baru melahirkan. Ditandai dengan lemas dan sakit pada sekujur atau di bagian- bagian tertentu tubuhnya. Penyebabnya adalah pola makan yang tidak teratur  dan pola kerja yang tidak baik pasca melahirkan. Jika lama ditangani, nare juga menyebabkan tubuh penderitanya kurus kering. Pengobatan nare dilakukan dengan  pemijatan badan (raperis-bahasa setempat) secara menyeluruh, yang dilakukan oleh sanro raperis (dukun pijat) yang umumnya perempuan. Di samping memijat, sanro raperis akan memberikan ramuan- ramuan  tradisional tertentu. Tentu disertai pula dengan doa- doa atau mantra- mantra yang dikuasai oleh sanro raperis.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa metode  pengobatan oleh sanro adalah metode  gaib  yang didukung  dengan penggunaan ramuan obat- obatan tradisional. Ramuan obat yang diberikan kepada pasien  pada dasarnya bersumber dari tanaman- tanaman obat lokal, seperti  daun sirih, jahe, pinang, kunyit, kunyit putih, merica dan tanaman- tanaman lain. Namun tanaman- tanaman ini saja tidak akan memiliki kekuatan penyembuhan jika tidak dilengkapi dengan parutan kayu- kayuan tertentu, yang diyakini memiliki kekuatan gaib. Kayu- kayuan penyembuh yang biasa disebut ‘lolo kayu’ berasal dari jenis tanaman tertentu yang hanya tumbuh di tempat tertentu dengan pola tumbuh tertentu pula. Cara mengambilnya pun dengan lelaku tertentu, yang  hanya diketahui  oleh sanro. 
Ramuan obat- obatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit ada yang  berbentuk campuran bahan- bahan utuh dari berbagai tanaman, ada pula yang telah diolah menjadi minyak. Masyarakat Empang dan Tarano mengenal  ‘minyak  lala’, yakni minyak yang dihasilkan  dari proses merebus berbagai  bahan obat dan lolo kayu (disebut ‘malala’). Kegiatan malala untuk menghasilkan minyak obat tidak sembarang waktu dilakukan. Biasanya pada waktu- waktu tertentu di bulan Muharram. Kegiatan ini dilakukan langsung oleh sanro atau dikerjakan oleh orang lain di bawah arahan sanro.
Di atas telah diuraikan klasifikasi umum sanro berdasarkan sumber penyakit. Secara khusus, ditinjau dari segi keahlian  dikenal berbagai   penyebutan untuk sanro  seperti ‘sanro baranak’ atau ‘sanro tamang’ (dukun beranak,dukun bersalin), sanro padau, sanro nare, sanro raperis seperti telah dijelaskan, sanro tode (dukun khusus penyakit anak- anak dan bayi)  dan ‘sanro polak’  (dukun ahli  untuk menangani patah tulang). 

Seorang sanro polak sedang mengobati pasien (Foto : Yin Ude)

Khusus membahas sanro polak, sangatlah menakjubkan kemampuannya menangani  tulang yang  retak, patah,  bahkan  remuk, seperti akibat kecelakaan maupun akibat hal- hal lain. Sefatal apapun tingkat kerusakan tulang pasien, jika telah ditangani oleh sanro polak yang mumpuni, tulang pasien tersebut akan kembali baik seperti sedia kala dan tidak memperlihatkan bekas yang buruk atau kelainan pada tubuh atau anggota tubuh yang  sebelumnya mengalami kerusakan. Waktu sembuhnya  pun relatif  singkat , ada yang  bahkan hanya seminggu. Jika tingkat kerusakannya tinggi, paling lama satu sampai dua bulan. Hanya ditangani dengan pijatan, doa atau  mantra dan ramuan obat- obat tradisional atau minyak lala.
Sanro yang khusus menangangi hewan ternak pun ada di Empang- Tarano. Keberadaan sanro ini terbilang vital mengingat Empang- Tarano adalah daerah peternakan dengan berbagai  budaya turunan. 
Budaya  turunan dari peternakan adalah permainan rakyat karapan  kerbau (barapan kebo) dan pacuan kuda (maen jaran). Dalam pelaksanaan kedua jenis permainan  ini, sanro terlibat. Perannya adalah mengantisipasi  kerbau  atau kuda pacuan atau jokinya diguna- gunai oleh pihak lawan, yang berakibat  kerbau atau kuda pacuan tidak  mau berlari, sakit, atau jokinya ‘kena popo’.
Khusus untuk barapan kebo, kemenangan kerbau karapan ditentukan oleh kecepatan lari dan ketepatan kerbau melanggar tonggak kayu yang disebut ‘saka’.  Untuk menjamin ketepatan melanggar tonggak kayu inilah diperlukan hadirnya ‘sanro saka’, yakni sanro yang bertugas mengantisipasi kerbau pacuan melenceng dari  tujuannya  melanggar saka akibat pengaruh atau serangan  ilmu dari sanro lawan. 

F. SANRO BUKAN PROFESI
Sanro dalam tataran budaya masyarakat Empang dan Tarano bukan termasuk profesi, seperti  halnya paranormal atau orang pintar di daerah lain, yang yang  pelakunya  bekerja dengan orientasi  finansial.  Sanro  rata- rata memiliki mata pencaharian utama dan tetap, seperti sebagai petani atau  peternak dengan kepemilikan lahan sawah ladang serta ternak yang memadai.  
Sanro  adalah orang  yang  berinisiatif dan bersemangat mewarisi ilmu pengobatan tradisi nenek moyang,  yang  dengan ilmu tersebut, yang bersangkutan tampil sebagai penyelamat  nyawa sesama manusia, bahkan sesama makhluk. Lekatnya nilai- nilai religi dalam kehidupan masyarakat  mendorong  sanro untuk mendapat pahala dari aktifitas  mengobati yang  mereka lakukan.  Karenanya sanro  adalah sosok- sosok yang bekerja dengan keihlasan. 
Keikhlasan ini  tercermin dari tidak adanya seorang sanro  pun yang memasang tarif pengobatan. Tidak pula ada perjanjian tertentu terkait apa yang akan menjadi kompensasi dari  upayanya melakukan pengobatan. Sebutan ‘ongkos’ adalah sebutan yang dianggap tidak sopan untuk seorang sanro. Ongkos, kalau pun diberikan oleh pasien  atau keluarganya, dinamai ‘mama mako’, yang bisa berbentuk uang maupun barang tertentu, seperti gula, kopi, teh, kain sarung dan lain- lain. Pemberian mama mako oleh pasien atau keluarga pasien pun dilakukan secara  halus dan sangat sopan. Uang atau barang ditaruh di dalam piring atau pinggan atau wadah lainnya dan ditutupi dengan kain atau serbet. Kalau pun dimasukkan ke dalam amplop, uang yang akan diberikan tetap ditaruh di dalam pinggan serta ditutupi dengan kain.
Berbicara mengenai nilai uang  yang diberikan kepada sanro oleh pasien yang mengharap kesembuhan, apakah sepadan  uang seratus dua ratus ribu  dengan resiko nyawa melayang ketika  sanro tersebut ‘kena popo’, kalah melawan sanro ‘pengirim’ penyakit yang mereka hadapi ?

BACA SELENGKAPNYA ?

Rabu, 16 September 2015

MAKALAH BUDAYA


MEMBANGUN MASYARAKAT EMPANG BERBASIS KEARIFAN LOKAL ;
TINJAUAN PERAN ELEMEN PEMIMPIN DAN MASYARAKAT

Oleh Manja Sus

Mantan Anggota DPRD Kabupaten Sumbawa
disampaikan dalam
Diskusi “Membangun Masyarakat Empang Berbasis Kearifan Lokal ;
Tinjauan Peran Elemen Pemimpin dan Masyarakat
Empang, 23 Agustus 2012


1. Pendahuluan
Adalah keharusan bagi kita masyarakat Empang untuk senantiasa melakukan evaluasi diri terhadap perubahan- perubahan yang telah diperbuat dan kemajuan- kemajuan yang telah dicapai setiap waktu. Hasil evaluasi diri tersebut sejatinya menjadi acuan untuk lahirnya gagasan- gagasan yang mendorong  perubahan dan kemajuan yang lebih positif  di masa yang akan datang.
Salah satu contoh gagasan yang telah lahir, mengemuka dan hari ini akan kita diskusikan adalah gagasan membangun masyarakat Empang berbasis kearifan lokal, dengan memperhatikan peran pemimpin dan masyarakat Empang sebagai dua faktor  yang menentukan pencapaiannya.
Kami sebagai nara sumber akan mencoba melontarkan pemikiran pribadi  terkait gagasan ini dalam sebuah makalah sederhana, yang kami harapkan akan  menjadi tambahan referensi kita bersama dalam sesi diskusi.
Untuk mendapatkan kesamaan pemahaman dan runtutnya pembahasan, makalah ini diawali dengan definisi kearifan lokal dan segi- segi kearifan lokal masyarakat Empang, yang dilanjutkan dengan signifikansi kearifan lokal dalam pembangunan masyarakat Empang, upaya- upaya yang harus dilakukan untuk membangun masyarakat Empang berbasis kearifan lokal, serta diakhiri dengan tinjauan peran elemen pemimpin dan masyarakat Empang dalam pelaksanaannya.

2. Definisi Kearifan Lokal dan Segi- segi Kearifan Lokal Masyarakat Empang

a. Definisi Kearifan Lokal
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu (budaya lokal) dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (masyarakat lokal). Dengan kata lain, kearifan lokal bersemayam pada budaya lokal.
Kebudayaan lokal mencakup tujuh unsur, yakni bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan kesenian. Namun demikian, sifat-sifat khas kebudayaan hanya dapat dimanifestasikan dalam unsur-unsur terbatas,  terutama melalui bahasa, kesenian, dan upacara. Unsur-unsur yang lain sulit untuk menonjolkan sifat-sifat khas kebudayaan lokal.

b. Segi- segi Kearifan Lokal Masyarakat Empang
Mengacu pada uraian definisi di atas, kita dapat menyatakan bahwa kearifan lokal masyarakat Empang dibangun oleh kebudayaan lokal Empang.
Sebagai bagian dari wilayah Sumbawa, maka jelas kebudayaan lokal Empang mewakili karakteristik umum kebudayaan Sumbawa, baik dari segi bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi maupun kesenian.

3. Signifikansi Kearifan Lokal Empang dalam Pembangunan Masyarakat Empang

Kearifan lokal Empang yang terdapat dalam budaya lokal Empang sangat penting artinya dalam upaya membangun masyarakat Empang.
Di dalam budaya lokal Empang terdapat gagasan-gagasan, perilaku-perilaku, dan artifak-artifak (material atau benda- benda hasil kebudayaan) yang mengandung nilai-nilai yang berguna dan relevan bagi pembangunan masyarakat Empang. Pada  setiap segi kebudayaan lokal Empang yang telah disebutkan dapat dipastikan mengandung nilai-nilai yang relevan dan berguna bagi pembangunan masyarakat Empang.
Relevansi dan kebergunaan itu terdapat misalnya dalam hal-hal sebagai berikut.
a. Bentuk-bentuk seni tradisi yang berkembang dalam suatu kebudayaan lokal Empang tidak semata-mata diciptakan untuk memenuhi kebutuhan estetis, tetapi untuk memenuhi kepentingan-kepentingan yang didasarkan pada alasan religius, mitos, mata pencaharian, dan integrasi sosial.
b. Nilai budaya dan norma dalam kebudayaan lokal Empang tetap dianggap sebagai pemandu perilaku yang menentukan keberadaban masyarakat Empang, seperti kebajikan, kesantunan, kejujuran, tenggang rasa, dan sebagainya.
c. Teknologi masyarakat Empang beserta teknik-tekniknya dalam praktik dianggap merupakan keunggulan yang dapat dipersandingkan dan dipersaingkan dengan teknologi yang dikenal dalam kebudayaan lain.
d. Suatu rangkaian tindakan upacara yang berkembang dalam masyarakat Empang tradisi tetap dianggap mempunyai makna simbolik yang dapat diterima meskipun sistem kepercayaan telah berubah. Upacara tradisi juga berfungsi sebagai media integrasi sosial.
e. Permainan tradisional dan berbagai ekspresi kesenian rakyat  masyarakat Empang mempunyai daya kreasi yang sehat, nilai-nilai kebersamaan, dan pesan-pesan simbolik keutamaan kehidupan.

4. Upaya Membangun Masyarakat Empang Berbasis Kearifan Lokal

Sejalan dengan perubahan sosial kultural yang demikian cepat, sebagian kebudayaan lokal Empang yang menyimpan kearifan lokal telah tergerus oleh kebudayaan global. Oleh karena itu, perlu ada revitalisasi budaya lokal (kearifan lokal) yang relevan untuk membangun masyarakat Empang.
Untuk merevitalisasi budaya lokal Empang diperlukan adanya strategi politik kebudayaan dan rekayasa sosial dengan pembuatan dan implementasi kebijakan yang jelas. Salah satu di antaranya adalah adanya peraturan daerah tentang pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan budaya lokal Sumbawa secara umum dan budaya lokal Empang secara khusus,  yang dapat menjadi payung hukum dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan-kegiatan budaya oleh dinas-dinas atau lembaga-lembaga terkait dan masyarakat Empang sendiri.
Langkah- langkah strategis yang perlu dilakukan untuk merevitalisasi budaya lokal Empang untuk membangun masyarakat Empang berbasis kearifan lokal adalah :
a. Inventarisasi dan Pengkajian Kearifan Lokal Empang
Tidak semua kearifan lokal yang terdapat dalam budaya lokal Empang telah diketahui oleh masyarakat Empang. Oleh karena itu, dalam membangun masyarakat Empang berbasis kearifan lokal perlu dilakukan inventarisasi, dokumentasi, dan pengkajian terhadap budaya lokal Empang untuk menemukan kearifan lokal yang bermanfaat bagi upaya membangun masyarakat Empang.
Selama ini, upaya  inventarisasi, dokumentasi dan pengkajian budaya lokal Empang masih sangat minim. Tulisan- tulisan atau buku- buku yang menggali budaya lokal Empang tidak pernah kita temui. Pemerintah harus mulai memikirkan untuk memacu masyarakat Empang menggali, mengkaji, mendokumentasikan dan mempublikasikan segala segi budaya lokal Empang guna menjadi referensi masyarakat Empang sendiri.
b. Forum Komunikasi Pemikiran Budaya
Pemerintah Kabupaten Sumbawa maupun Pemerintah Kecamatan Empang tidak harus menyelenggarakan sendiri segala upaya pembangunan masyarakat Empang berbasis kearifan lokal. Berbagai elemen masyarakat juga memiliki tugas dalam kegiatan tersebut. Demi tercapainya cita-cita luhur yang harmonis diperlukan berbagai forum dialog. Prakarsa untuk memulai forum ini dapat dilakukan  oleh pemerintah dengan melibatkan elemen-elemen di luar birokrasi pemerintahan seperti organisasi- organisasi atau sanggar- sanggar seni budaya. Diskusi yang terselenggara hari ini merupakan contoh forum yang kami maksud.

Langkah-langkah strategis sebagaimana telah diuraikan di atas diharapkan akan membentuk suatu kesadaran kultural yang pada gilirannya akan membentuk ketahanan kultural pada masyarakat Empang. Kesadaran dan ketahanan kultural  menjadi pilar yang sangat kuat untuk membangun masyarakat Empang yang berbasis kearifan lokal.


Manja Sus
Penulis adalah:
Mantan Anggota DPRD NTB



BACA SELENGKAPNYA ?

Rabu, 26 Agustus 2015

SURAT KEPERCAYAAN




SURAT KEPERCAYAAN 
KEPADA SENIMAN KECAMATAN EMPANG

Ass. War. Wab.

Bahwa :
1. Sejarah keunggulan kreatifitas dan produktifitas seniman Kecamatan Empang telah teruji, terbukti dan diakui sejak lama
2. Kuantitas seniman Kecamatan Empang sangat besar dan tersebar merata di seluruh bidang seni
3. Pembangunan dan kemajuan peradaban manusia Kecamatan Empang tidak terlepas dari peran dan pengaruh para seniman Kecamatan Empang.

Untuk itu, dengan ini saya sebagai warga Kecamatan Empang menyatakan kepercayaan kepada para seniman Kecamatan Empang untuk :

1. Membangun dan mengembangkan visi berkreasi, dengan memperhatikan :
a. Idealisme sejati seniman sebagai penghasil karya seni yang tidak  boleh diintervensi oleh idealisme atau kepentingan- kepentingan di luar kesenian
b. Pengkajian terhadap perkembangan- perkembangan seni budaya di luar Kecamatan Empang, baik lokal, nasional maupun internasional
c. Estetika dan etika
d. Kearifan lokal Kecamatan Empang

2. Membangun kebersamaan yang lebih kuat dalam wadah organisasi seni budaya yang mandiri, dengan memperhatikan :
a. Penempatan yang proporsional antara tujuan- tujuan personal dengan tujuan- tujuan  organisasi
b. Selektifitas dan objektifitas penetapan pemimpin organisasi dan para pelaksana kegiatan organisasi
c. Penempatan yang proporsional antara kepentingan organisasi dengan kepentingan pemerintah dan /atau pihak- pihak lain yang terkait dengan kegiatan dan kehidupan organisasi
d. Kejelasan dan kesinambungan proses yang berlangsung dalam organisasi
e. Kejelasan manfaat organisasi terhadap seniman anggota dan masyarakat luas
f. Kesinambungan proses pewarisan hasil karya seni kepada generasi muda saat ini dan 
generasi yang akan datang 

3. Berani memutuskan rantai keterkaitan, keterikatan dan ketergantungan dengan golongan seniman tua, dengan jalan :
a. Mengurangi atau meniadakan keterlibatan golongan seniman tua  dalam organisasi seniman 
b. Meningkatkan kemandirian organisasi seniman melalui usaha produktif melalui karya yang dihasilkan oleh organisasi seniman.
c. Meningkatkan kapasitas keilmuan seni budaya dan pengelolaan organisasi seni budaya melalui berbagai media dan wadah, baik secara perorangan maupun atas nama organisasi seniman. 

Demikian surat kepercayaan ini saya buat sebagai perwujudan murni dari harapan saya terhadap kemajuan seni budaya, dan peningkatan kapasitas berkarya seniman Kecamatan Empang.

Wass.War.Wab.

Empang, 13 Nopember 2014

Hormat,



MUHAMMAD THAMRIN

BACA SELENGKAPNYA ?