KATA PENGANTAR PENULIS
Disadari atau tidak, dengan kiprahnya sebagai politisi, sebagai anggota DPRD Kabupaten Sumbawa selama dua periode, Manja Sus adalah ‘orang besar yang berjasa’ bagi rakyat Kabupaten Sumbawa, sebab pemikiran dan pendirian besarnya di pentas politik, di dalam gedung dewan, sudah ikut mempengaruhi ‘sikap’ dewan dan pemerintah dalam mengatur serta melayani rakyat.
Sudah seharusnya kita tahu riwayat hidupnya. Tentunya untuk mendapatkan gambaran tentang latar yang ada di belakang kehadiran, pemikiran dan pendirian- pendiriannya. Bisa dicontohi, bisa pula menjadi salah satu acuan saat kita hendak memberikan penilaian terhadap kiprah- kiprahnya. Penilaian yang didasarkan pada pemahaman yang jelas tentang siapa dan bagaimana sesungguhnya Manja Sus.
Demikianlah tujuan buku kecil ini ditulis. “Yang sederhana- sederhana saja dulu. Tentang masa kecil dan remaja saya. Tentang latar belakang kehidupan dan tumbuhnya pendirian- pendirian saya. Detil kiprah politik atau sebagai anggota dewan kita garap lagi pada buku berikutnya. Butuh waktu tentunya untuk riset. Saya mau diatur bagaimana caranya supaya catatan tahunan saya juga berbicara sendiri.“ Ini keinginan Manja Sus, yang alhamdulillah dapat dipenuhi oleh penulis.
Banyak kekurangan, terutama pada bagian Ketika Biru. Catatan tahunannya sangat sedikit (karena terbatasnya arsip yang ditemukan) dan rentang tahunnya pun cukup jauh. Masukan- masukan konstruktif dari pembaca tetap diharapkan.
Empang, Sumbawa- 2010
(Yin Ude)
PUTRA PUTRI MANJASUS - tentang ayahandanya
Menceritakan tentang Ayahanda Manja Sus mengingatkan tentang perjuangan hidup seorang manusia yang tidak kenal kata kalah. “Hidup adalah tantangan yang harus dijalani. Hanya kematian yang membuat kita mengalah.” Ujar beliau. Suka duka sebagai perantau di usia dua puluh tahun di tanah Empang beliau jalani dengan tabah. Saya tahu pasti hal ini dari keluarga, kerabat, sahabat, orang- orang yang mengenal dekat Manja Sus.
Beliau saya kenal dari banyak dimensi. Sebagai bapak, sebagai guru, bahkan sebagai teman bagi saya. Kami sering bertukar pikiran tentang segala hal. Agama, pendidikan, termasuk percintaan. Terkait pendidikan, beliau sangat meyakini bahwa Allah cinta orang yang berilmu. Kata ‘iqra’ beliau tanamkan selalu di jiwa anak- anaknya. Beliau seorang yang memiliki jiwa sosial tinggi. Terkadang beliau lebih memperhatikan kepentingan orang lain, masyarakat, daripada keluarga. “Saya milik semua orang.” Alasan beliau selalu, yang kadang memancing Ibunda Murdiah (alm) untuk nyeletuk, “Itulah bapakmu. Kalau urusan orang selalu di depan. Masalah anak- anaknya kadang dilupakan.”
Selama dua periode beliau duduk di kursi dewan, itu saya rasa adalah harga pantas, sebagai wujud balik penghargaan masyarakat kepada beliau. Saya -dan pastinya orang- orang yang dekat dengan beliau- terkesan dengan motivasi- motivasi hidup yang kerap beliau lontarkan. Sepucuk surat beliau yang diberi judul ‘Dialog’ saya terima saat berada di Jepang. Sepenggal isinya, “Baik dan buruk itu lahir kembar, sehingga anggota badan manusia itu sepasang. Kanan dan kiri.” Penggalan yang mengisyaratkan agar saya tak gampang goyah kendati menghadapi kondisi apa pun. Sekaligus memaksimalkan seluruh daya yang ada untuk lebih tekun berjuang.
Semoga buku ini dapat menjadi referensi berpikir bagi pembaca dan generasi mendatang agar lebih merasa dekat dengan Manja Sus, menjadikannya sebagai bapak, guru dan sahabat.
(Med Manjarungi, ST., MT.
Putra ke enam Manja Sus dari Murdiah, alm.)
Manja Sus, ayahku, adalah lelaki yang melampaui jaman dan masyarakatnya. Nyentrik, nyeleneh dan pemuja demokrasi. Berbincang dengan beliau akan mengingatkan kita pada angin, yang sekali waktu menderu- deru menggugah kita untuk tak menyerah dan yakin bahwa hidup adalah tantangan yang harus dihadapi. Yang di lain waktu sepoi- sepoi pula, menasehati bahwa setiap kita adalah tempat salah dan lupa, sehingga kita mesti memandang manusia lain secara utuh dengan kebaikan dan keburukannya.
Manja Sus, ayahku, adalah pribadi yang unik. Bisa masuk ke segala ‘ruang’. Salah seorang teman yang menyebut diri ‘kaum pembaharu’ mengatakan, “Ayahmu luar biasa. Ia komplit. Ia bukan agamawan, bukan sekuler, bukan sosialis, bukan kanan, bukan kiri, tapi ia SEMUA.”
Menjadi salah satu putrinya adalah kebanggaan buat saya.
(Allein Erida Dg. Iji
Putri pertama Manja Sus dari Elyanti)
BAGIAN A
KETIKA KELABU
1. MANJA SUS BEK RUSUH
Setengah jam sudah Daeng Suma’ duduk bersila di atas tikar pandan ruang tamu. Wajahnya yang terpapar sinar dila jarak (1) menampakkan kegelisahan demi mendengar erangan terus- menerus dari dalam bilik di ruang tengah. Sesekali ia menghela nafas, menghembuskannya dengan hentakan. Cara yang tak juga bisa membuat ia tenang.
Erangan itu adalah erangan isterinya, Daeng Safi’ yang sedang berjuang melahirkan anak pertama mereka.“Istigfar, Daeng …, istigfar ….” Itu suara Amba’, perempuan sanro tamang(2) yang sedang menolong Daeng Safi’.
Daeng Suma’ menghela nafas lagi, menghembuskannya dengan hentakan lagi. Kehawatirannya menjadi- jadi ketika jeritan kesakitan Daeng Safi’ mendera pendengarannya. Kokok ayam jantan bersahutan dari kolong rumah tetangga mengantara suasana. Daeng Suma’ tersadar kalau waktu sudah dini hari. Waktu dimana biasanya ia sudah berada di Labuhan Lalar untuk mengambil ikan yang akan ia jual di Pasar Tliang(3). Kali ini ia tak bisa menjalankan kegiatannya itu sebab harus menunggu kelahiran anaknya.
“Terus … terus Daeng ! Sedikit lagi. Iya, terus ….!” Rentetan perintah Amba’ membuat dada Daeng Suma’ berdesir.
“Sedikit lagi … sedikit lagi ! Terus Daeng … terus !” Hati Sang suami jadi ikut- ikutan berseru.
“Alhamdulillah …! Laki- laki !”
Tak sadar Daeng Safi’ melompat bangkit dari duduknya saat mendengar seruan Amba’ yang disusul tangis keras bayi. Gegas langkah Si bapak baru itu menuju bilik. Di pintu ia berdiri. Senyumnya merekah. Matanya berbinar menatap tubuh merah mungil diangkat Sanro tamang untuk dibasuh dengan air hangat.
“Alhamdulillah ….” Bisik Daeng Suma’ bahagia.
*
Kalender menunjukkan tanggal 15 Agustus 1945 saat bayi laki- laki itu lahir. Kini ia telah menjadi seorang anak yang lincah, dengan menyandang nama ‘Manja Sus’.
Ia sedang berjalan menyusuri jalan setapak di sela- sela rimbunan bambu di tebing Brang(4) Bleong. Di belakangnya menyusul Ante, Dolo dan Adi, tiga orang temannya yang paling akrab.
“Jadi nanti sore kita main bola ke Karang Bugis ?” Tanya Ante seraya menyeka peluh di keningnya.Siang yang panas. Keempat anak itu masih berkeringat juga kendati berada dalam kebun bambu yang tumbuh tinggi dan rapat.
“Tentu saja jadi !” Jawab Dolo.
“Tapi sebelum itu kita main baceka’(5) dulu.” Sambut Adi. “Jambu mete di lereng Olat(6) Semoan sudah besar- besar bijinya.
”“Huss, besok saja kita main baceka’. Lagi pula apa kamu sudah siap untuk kalah lagi ?!” Seru Dolo seraya mencibir ke arah Adi.
Adi balas mencibir.“Kamu juga tidak pernah menang badempa(7) !” Soraknya.
Dolo berhenti. Berkacak pinggang. Ante, Adi dan Manja Sus jadi ikut pula mengurungkan langkah. “Bagaimana aku tidak kalah ?! Manja mengadu aku dengan anak yang jauh lebih besar dariku ! Coba sama- sama besar, pasti aku jatuhkan !” Kata Dolo dengan wajah tidak senang.
Ante dan Adi menatap Manja Sus, meminta anak yang dari tadi diam itu untuk berkomentar. Manja Sus memandang ketiga temannya dengan wajah serius.“Kalau menang badempa belum tentu jagoan.” Ucapnya. “Aku ingin mengadu Dolo berkelahi. Kalau menang, berarti dia jagoan …”
"Dengan siapa ?!” Potong Dolo terpancing.
“Dengan anak Karang Bugis, Karang Arab …. Dengan siapa saja yang mau kelahi denganmu.” Jawab Manja Sus sambil berjalan lagi.
Dolo diam. Ante dan Adi juga diam. Mereka ikuti langkah Manja Sus.
“Baik, aku siap ! Anak Tliang tak kenal takut !” Balas Dolo beberapa saat kemudian.
“Bagus. Besok lusa aku carikan kamu lawan. Sekarang, seperti rencana semula kita mandi dulu.”Habis berkata demikian Manja Sus berlari menuruni tebing sungai.
Di atas hamparan batu ia menanggalkan pakaiannya. Terlihat jelas badannya yang kecil kurus dengan perut membuncit. Sedari kecil ia sakit- sakitan dan cacingan.
Byuurr.Manja Sus sudah melompat ke air Brang Bleong yang berarus cukup deras. Ia berenang menuju reruntuhan jembatan buatan Belanda di tengah sungai itu. Sejurus ia sudah berdiri di atas reruntuhan, melambai- lambaikan tangan ke arah ketiga temannya yang masih berada di atas tebing.“Hei, ayo mandi ! Segar !” Teriaknya.
“Kami mau ke Makam Batu Bulan !” Seru Adi. “Siapa tahu ada ayam yang keliaran !”
“Baiklah ! Yang cepat. Kalau ayamnya tertangkap kita potong ramai- ramai !” Balas Manja Sus sambil mengambil sikap siap- siap melompat lagi ke dalam sungai.
Dolo, Ante dan Adi terus berjalan menuju Makam Batu Bulan.
Makam Batu Bulan adalah makam kuno yang berada tidak jauh dari Brang Bleong. Di sana orang- orang desa sekitar sering meletakkan sesaji untuk keperluan mengusir roh jahat di tubuh orang sakit. Kadang ‘paket’ sesajiannya menyertakan seekor ayam yang dilepas di sekitar makam.
Manja Sus sudah keluar dari sungai. Usai mengenakan pakaian ia duduk memeluk lutut di atas batu. Temannya belum terlihat.
Tatapan anak kecil itu tertuju ke arah hamparan pasir memanjang di tepi sungai.“Coba ada teman, aku bisa main bakala(8).” Kata hatinya membayangkan asyiknya berlari- larian menghindari tangkapan teman- temannnya di atas hamparan pasir itu.
Bosan sendiri, matanya beralih menyoroti puncak Olat Semoan. Olat yang tepat berada di belakang desa tempat tinggalnya, yakni Desa Karang Selayar.
Manja Sus terpikat pada lekak- lekuk hijaunya. Permukaan bukit itu memang memiliki banyak relief lembah yang ditutupi hutan lebat.
“Hahh ! “
Manja Sus tersentak.
Spontan ia berdiri dan membalikkan tubuh ke arah Ante, Adi dan Dolo yang tak ia sadari kehadirannya dan baru saja serempak bersorak mengagetkannnya dari belakang.
“Mana ayamnya ?” Tanya Manja Sus.
Ketiga temannya tidak menjawab. Mereka sibuk melepas pakaian, lalu susul menyusul menceburkan diri ke dalam sungai.Satu- satu kepala menyembul di permukaan.
“Teman- teman, hari ini kita main bola jeruk atau bola pisang ?” Seru Ante sambil menyeka air di wajahnya.
“Bola karet !” Jawab Dolo yang sedang memamerkan renang gaya punggung.
“Bola apa saja, yang penting kita menang dari anak- anak Karang Bugis !” Sambut Adi yang kemudian menyelam dan ketika muncul menggenggam sebuah batu kecil.
“Lihat aku !” Teriaknya.
Anak itu menyelam lagi. Yang muncul bukan kepalanya, melainkan pantatnya yang menjepit batu.
Pecahlah tawa teman- temannya.Manja Sus mengeruk pasir dengan tangannya. Ketika wajah Adi muncul sambil cengar- cengir, dilemparinya anak banyak akal itu dengan gumpalan pasir. Tapi meleset sebab Adi sudah cepat menyelam kembali.
“Ayo kita main simo’ !” Ajak Ante setelah tawanya reda.
Manja Sus ragu untuk ikut sebab sudah berpakaian. Tapi Dolo telah keluar dari sungai dan menangkap lengannya dengan cepat, menariknya untuk masuk ke dalam air. Terpaksa Manja Sus menanggalkan baju celananya kembali.
Keempat anak itu pun terlibat main simo, tarik menarik, dorong mendorong saling menjatuhkan di tebing sungai.
Sejam kemudian mereka berhenti, mengenakan pakaian dan duduk berdampingan di atas tebing.
“Berapa gol yang akan kita masukkan hari ini ke gawang anak- anak Karang Bugis ?” Tanya Adi.
“Sepuluh !” Jawab Dolo.
“Sebelas !” Sambut Ante. “Biar mereka pulang dengan membawa hutang masing- masing satu gol.”
“Tapi, jangan lupa, bek kanan kita harus perhatian pada bola, bukan asal tabrak lawan saja.” Kata Adi seraya menoleh kepada Manja Sus yang tersenyum malu.
“Iya, kemarin dulu kita kalah gara- gara Manja. Ia tidak melihat bola tapi malah bernafsu menjatuhkan penyerang lawan !” Timpal Dolo.
“Sukanya membuat keributan saja.” Tambah Ante. “Ujung- ujungnya kita semua bukannya main bola, tapi main pukul dengan anak- anak desa lain.”
“Baiklah … aku berjanji akan jadi bek yang baik !” Seru Manja Sus sambil bangkit menepuk- nepuk pantatnya yang dilekati daun bambu kering.“Ayo, jalan ! Nanti kita bertemu di lapangan.” Sambungnya seraya berjalan mendahului meninggalkan tempat itu.
Ante, Dolo dan Adi pun lekas menyusul. Di luar kebun bambu mereka berpisah, masing- masing menuju desanya. Ante, Dolo dan Adi menuju ke Desa Karang Dalam. Manja Sus belok ke Desa Karang Selayar.
“Hei, mau kemana kamu Manja ?! Kamu anak Karang Dalam atau Karang Selayar ?!” Seru Ante pada Manja Sus.
Manja Sus mencibir. Ia tahu maksud Ante yang ingin mengodanya lagi, yang kerap dilakukan anak itu sejak Manja Sus dan keluarganya beralih tempat tinggal.
Satu tahun yang lalu Daeng Suma’ dan Daeng Safi’ memutuskan pindah ke Karang Selayar, setelah sebelumnya mereka menetap di Karang Dalam. Alasan mereka karena di Karang Selayar lebih banyak keluarga.
“Hoee …! Mau kemana ?!”Teriakan Ante yang usil terus menerpa pendengaran Manja Sus.
Yang diteriaki tidak peduli lagi ….
**
Anak- anak Karang Bugis sudah berada di bagian timur lapangan kecil itu. Mereka yang akan bermain bola dikelilingi oleh anak- anak lain yang menjadi suporter. Demikian pula dengan Manja Sus cs, yang membentuk kelompok tersendiri di bagian barat.
Ante sedang mengatur rencana permainan.
“Bagaimanapun caranya jangan biarkan Si kurus itu terus mendapat bola. Bisa berbahaya sebab larinya cepat.” Katanya serius seraya menunjuk salah seorang anak di kelompok pemain Karang Bugis.“Pepet terus dia. Ini tugas Adi.” Sambungnya.
“Tapi Si baju merah itu juga bahaya. Kemarin dia bisa mengecoh empat orang pemain kita dan memasukkan bola dari jarak jauh ….” Sela Manja Sus.
“Ya, sekali.” Sambut Ante. “Tapi paling sering dia mengecoh kamu yang senangnya menabrak lawan, bukan berusaha merebut bola.”
Manja Sus hendak menyangkal. Tapi para pemain Karang Bugis sudah masuk lapangan.
Ante menyuruh teman- temannya untuk lekas bersiap dan mengambil posisi. Di tengah lapangan ia berhadapan dengan Si kurus.
“Mainnya yang bersih, ya ?!” Kata Si kurus. “Jangan seperti kemarin- kemarin, temanmu selalu kasar. Apalagi Si Manja Sus itu. Jadi bek kerjanya tendang perut saja.”
Ante mengangguk sekenanya. Perhatiannya lebih tertuju pada bola karet yang dilemparkan dari luar lapangan oleh salah seorang suporter Karang Bugis.
“Siapa yang pegang bola lebih dulu ?” Tanya Ante sambil meletakkan bola itu di antara dirinya dan Si kurus.
“Kalian sajalah, tidak apa- apa.” Jawab Si kurus. Ia mundur beberapa langkah untuk memberi kesempatan kepada Ante dan Dolo untuk membuka serangan.
Permainan pun dimulai. Sorak sorai suporter masing- masing tim membahana.
“Oper ke kanan !” Seru Ante kepada Dolo.
Bola melambung dan diterima oleh pemain sayap kanan yang langsung berlari cepat menggiringnya ke daerah pertahanan tim Karang Bugis. Pemain sayap kiri Karang Bugis berusaha menutup ruang gerak. Tapi bola sudah diumpan lagi kepada Adi yang datang membantu penyerangan.
“Jaga terus !” Teriak Si kurus.
“Hei, hei, ke sini !” Seru Dolo.
Adi memberi bola kepada temannya itu yang kemudian memain- mainkannya sesaat dengan telapak kakinya.
Ante datang dibayang- bayangi salah seorang pemain Karang Bugis. Kakinya tangkas menghentikan bola yang dioper Dolo, menggiringnya sambil berusaha menghindari kejaran pemain lawan.
Adi telah menempati sisi kiri lapangan. Bola dilambungkan Ante ke arahnya. Adi balik menendang, jatuh tepat di depan Dolo yang dengan cepatnya telah berada beberapa meter di muka gawang.
Dugg ! Jitu sekali punggung kaki Dolo menghantam bola yang memantul naik selutut itu.
“Gol !” Seruan keras pendukung Karang Dalam menyusul bola yang melesat deras menembus gawang Karang Bugis. Kipernya salah langkah. Terlalu cepat maju hingga tak bisa menghadang.
“Gol ! Goool !” Sorak- sorai memecah lagi. Suporter Manja Sus cs melompat- lompat kegirangan, bahkan ada satu dua orang yang berlarian melintasi lapangan seraya mengibas- ngibaskan baju mereka yang dilepaskan. Suporter Karang Bugis meneriaki pemain mereka.
Bola di kaki Si kurus. Si baju merah yang ditakuti Manja Sus cs sudah siap- siap menerima umpan. Ia berlari kencang disusul bola yang bergulir deras ke arahnya.
“Pepet dia !” Seru Ante kepada Adi.
Adi mengejar, mencoba merebut bola. Tapi Si baju merah lebih lincah. Tubuhnya meliuk- liuk melepaskan diri dari sergapan. Ia terus berlari menggiring. Satu dua pemain lawan terkecoh. Ia telah sampai di daerah pertahanan Manja Sus cs.
Bek kiri Manja Sus cs maju menghadang. Dengan indahnya Si baju merah berkelit pula. Bola ia loloskan di antara kedua kaki penghadangnya. Gawang terancam. Manja Sus bergerak cepat mendekati penyerang itu. Keduanya beradu kelihaian. Yang satu berusaha lepas dari hadangan. Yang satunya tak mau dikelabui. Si baju merah geram karena Manja Sus terus merangsek. Kemana pun ia menghindar, tetap saja ruang geraknya ditutup.
“Perhatikan bola Manja ! Perhatikan bola !” Teriak Ante dan Dolo hampir bersamaan. Keduanya tak ingin Manja Sus berbuat kasar seperti biasa.
Tapi seruan itu tak terlalu diperhatikan oleh Manja Sus. Ia sudah mulai geram pula karena belum juga bisa merebut bola dari kaki Si baju merah. Ketika geramnya memuncak, ia pun tak pikir panjang lagi. Dengan sengaja ia menabrakkan diri ke badan lawannya.
Manja Sus memang bertubuh kecil. Tapi karena dorongan badannya cukup deras dan tak terduga, Si baju merah pun terjengkang. Ante, Dolo dan Adi terkesima. Apa yang tidak mereka inginkan telah terjadi. Si baju merah naik pitam. Ia bangkit dan langsung menyerang Manja Sus. Kedua anak itu pun terlibat baku tinju. Teman- teman Manja Sus dan para pemain Karang Bugis berlarian datang untuk melerai. Manja Sus diseret paksa oleh Adi. Si baju merah meronta- ronta dalam pelukan ketat Si kurus.
“Apa kubilang. Kamu selalu saja main tabrak ! Akibatnya jadi begini !” Seru Dolo menyalahkan Manja Sus.
“Kecil- kecil masih saja berani main kasar ! Tidak tahu apa, kalau ini kampung mereka ?” Sambut Adi.
“Sudahlah !” Sela Ante.“Bagaimana ? Kita lanjutkan permainan ini ?” Tanyanya pada pemain- pemain Karang Bugis.
“Kami tidak mau main lagi kalau ada Manja Sus ! Kami tidak suka ada yang rusuh begitu !” Jawab Si kurus ketus.
Teman-temannya mengangguk, mendukung. Ante, Dolo, Adi dan teman- teman lainnya memandangi Manja Sus yang duduk di rumput.
“Kalian lanjutkan saja permainan !” Seru Manja Sus dengan muka masam.
Hening.
Para pemain dan suporter Karang Bugis menatapi Manja Sus dengan sorot tidak senang.
“Baiknya kita hentikan saja.” Keputusan meluncur dari bibir Ante. “Tidak enak juga kalau Manja Sus dikeluarkan.”
Yang lain menurut tapi sambil menggerutu menyesali Manja Sus.
Manja Sus diam saja. Ia melangkah cepat meninggalkan lapangan itu.Tak ia pedulikan lagi teriakan Ante yang memintanya untuk menunggu teman- temannya.
***
(1)lampu dengan bahan dari tumbuhan jarak
(2)dukun beranak.
(3)Sekarang Taliwang, sebuah kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB
(4)sungai
(5)permainan menembak biji mete dengan biji mete
(6)bukit
(7)permainan adu kekuatan kaki atau betis
(8)Main hadang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar