
Pancaroba kemarin, langit- langitnya ungu
Gayutan merah biru pesona yang telat berkaca
Lantas kerlap dan kerlip bertumbukan
Pecah di wajah cuacaku yang menimang- niman sepi kunang- kunang
Jatuh di riuh angin petang
Membawa serangkum kelepak bintang
Lalu pinta dan tanya berangkaian
Berdenting- denting dalam pusaran kopi kental
Dibenamkan riak eiswein* yang kadung sandarkan fantasi nakal
Oh, ibanya hati pada arus bawah kalimu
Merah
Pekat
Teriris ujung aliran.
2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar