Kamis, 03 Desember 2015

Cafe 21, Malam Minggu


Pancaroba kemarin, langit- langitnya ungu
Gayutan merah biru pesona yang telat berkaca
Lantas kerlap dan kerlip bertumbukan
Pecah di wajah cuacaku yang menimang- niman sepi kunang- kunang
Jatuh di riuh angin petang
Membawa serangkum kelepak bintang
Lalu pinta dan tanya berangkaian
Berdenting- denting dalam pusaran kopi kental
Dibenamkan riak eiswein* yang kadung sandarkan fantasi nakal
Oh, ibanya hati pada arus bawah kalimu
Merah
Pekat
Teriris ujung aliran.

2002

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar