Sebenarnya ada luka di dada ini, kawan. Tersembunyi dari udara luar. Kami pendam untuk sinambungnya nafas mimpi. Toh kami sudah biasa menyimpan segala yang bersemburan sejak lidah dipotong cuaca. Padamu kami kereta. Kau tahu, kenapa kami bicara padamu, sementara dulu kata- kata mendongeng saja dalam kesetiaan puisi ? Kami ingin belajar memahami kesetiaan lain yang mungkin tak akan menggoreskan pasrah berulang kali di bilik dingin ini. Kau sudah hapal deru kereta, lengking menebah terminal. Kebisuan pilar dan dinding adalah sambutan paling tegas, paling keras. Lalu deru dan lengking ditampar gema sendiri yang sepi. Kereta berangkat, menjelajahi udara, memagut jarak demi jarak, menemui suasana lain yang berjarak. Rel yang membaja, kaku angkuh dalam kedekatan, pada sapaan roda yang bergegar. Bahkan ketika kereta terguling, digulingkan ia yang pada satu kelokan mendadak putus. Sejauh mana kereta pergi ? Kau lebih hapal lagi. Ia melaju dengan sesak riuh, sampai terminal lain, terminal sama, semua tumpah. Berebutan sesak riuh lain, sesak riuh sama, memacunya kembali. Kawan, terminal pertama kadung tempatnya melansir gerbong. Setidaknya ada sudah gudang yang dikenal, sudah mengenal, tempat nyandar biar dengan penyambutan kaku. Semakin beku dalam aroma lumut dindingnya. Lucu, kami suka itu. Mendengarnya terbayang gelak tawa. Cairnya apa yang tak bisa digapai oleh pencairan api nurani kami yang sebenarnya ingin melepas kenangan. Ya, karena mau tambah lucu lagi, kami berharap bisa menyebut diri bemo, perahu, kapal terbang atau roket yang pulang pergi ke angkasa. Kami keranjingan bolak- balik, kawan.
2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar