
Masih seperti dulu, Bang. Segar air lautmu mengasinkan sedikit rumah cuaca yang tawar. Datang dilayarkan gelora ; "doakan aku, Dik. Jaga si Kecil. Tunggu Abang pulang kembali."
Dan angin itu pula yang selalu meniupi unggunan api rindu, tempat aku dan anakmu hangat terjerang.
Takkan berubah doa- doa saingan angin, saingan hujan, saingan matahari, saingan laut, saingan pelabuhan, saingan kota- kota pesisir, bikin kelakianmu tak tersaingi di haluan.
Aku bahagia, Bang, sebab Tuhan membuatku jadi perempuan yang pandai jadi madu ....
2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar