
Dewa, Kau yang diam di lidah, jadilah suara, membahana di ubun orang- orang yang berkumpul di simpangan
Mengusap-usap bola nasib di kristal gypsi, gumpal lelehan pelupuk bengkak anak- anak dalam caravan.
Mereka saudara dari Timor
Bertualang dalam cuaca yang menguapkan darah ke Portugal
Menjelmalah acapela, terpikatlah denting sasando
Panas angin sabana, gemuruh Tanjung Fatukama, kandas di loro sae terbakar, Dilli kebanjiran, sementara laut menanti untuk menguapkan air bakal hujan, menyuburkan rumput penggemuk kuda perkasa, mekarkan kembang bunga liar kesukaan dara manis rambut keriting, sementara angin masih sepi buat aliran sampai ke pantai harapan.
Sementara kibasan- kibasan rencong mengipasi bara
Menyala bendera di angkasa Papua
Merdeka ?
Cuma kau Dewa yang hapal maknanya.
Di sini, di tanah ini, kata ini telah dipagut api.
2000
Tidak ada komentar:
Posting Komentar