(Kepada Pak Manja Sus)
Siang beku di tumit malamSementara sari bulan habis dihirup akar mimpi
Percayakan bahwa suar fantasi mengerlap-ngerlip di tepi
Menjangkau sepi sore yang pampangkan keindahan sunset di garis horison
Garis pertemuan berjarak bumi langit
Atas bawah ?
Aku, kau dan semesta nurani beterbangan
Berkepak- kepak dalam pengabdian
Pengabadian hari sudah- sudah
Seperti laron
Riuh mendukung dingin gua- gua
Mencecar petromak
Jatuh patah sayap
Ratapi inti api.
(Ini kata keliwat rimbun di batang- batang tanya
Jadi ironi batang- batang nadi kita pula
Arusnya gemuruh mengikis tebing dan akar keladi
Luapkan ombak bibir muara.
Ini tanya berbunga doa- doa
Semoga tak jadi anggrek bulan
Hijau sembulkan kembang
Mengunyah sari- sari rimba).
2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar