Sabtu, 06 Februari 2016

Ironi Hardiknas


(Buat pacarku, Bulan di akar Taman Siswa)

Kata- kata luhur telah terperangkap di bui retorika
Suarnya pecah, anak- anak gulita mengusung arit dan pacul, memperdengarkan nada patah batang-batang kacang dan padi
sawah ladang pengharapan
Di pagi lonceng sekolah bergema.
Hidupkah arwahmu sejenak dalam puisi lara ini ?
Aku generasi kesekian yang terlena dalam sketsa dekorasi
Ikut warnai senyum ketika saput demi saput membaluri muka
Indonesia
Indonesia
Indonesia
Kening pada tercoreng di pentas yang dibangun sendiri.
Pada akhirnya aku bosan menanti yang namanya Ki Hajar Dewantara
Kau semakin mati dalam teori kami yang menjadi

Empang, 2003

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar