KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberiku kelapangan pikiran, perasaan dan waktu untuk berkarya.
Buku roman sederhana ini bertutur tentang determinansi- determinansi dan kekalahan yang dialami manusia menghadapi realitas transisi masyarakat dan psikologinya sendiri.
Semoga diterima oleh para penikmat sastra.
Yin Ude
SINOPSIS
Yar, seorang pemuda dari keluarga miskin di kecamatannya. Ia selalu mengalami kegagalan dalam hubungan asmara, karena ditolak atau ditinggal kawin oleh orang yang ia cintai.
Suatu saat ia berhasil mencapai kegemilangan sebagai sastrawan dan wartawan. Ia gunakan kegemilangannya itu untuk menunjukkan harga diri dan keluarganya kepada masyarakat sekitarnya. Tetapi tanpa disadarinya, sikap dan tindakannya membuat dia tampak sebagai orang yang melawan arus perubahan di kecamatannya. Ia dimusuhi. Orang tuanya pun menentangnya. Yar terlibat konflik dengan warga kecamatan, bapak dan emaknya.
Salah seorang musuhnya adalah anggota dewan bernama Abduh, yang juga bapak Nur, mantan kekasih Yar.
Abduh menuduh Yar telah mempengaruhi Nur, hingga anaknya itu bunuh diri menjelang perhelatan pernikahannya.
Yar dan kakaknya, Sri, tewas di tangan orang suruhan Abduh, yang suatu malam datang menyerang dan membakar tempat tinggal Yar.
BAGIAN 1
Maafkan aku
Aku sadar ini akan sangat menyakitkan
Tapi inilah takdir dan aku tak dapat menolaknya.
Aku telah menerima lamaran seorang lelaki, dan rencananya dua bulan lagi kami menikah.
Bukan, bukan karena kamu tidak pantas menjadi pendamping hidupku. Sekali lagi bukan ! Kamu tahu bagaimana besarnya cintaku. Bahkan kamu tentu ingat pula bagaimana seringnya aku bicara tentang pernikahan, mengajak kamu membayang- bayangkan asyiknya kita membangun keluarga , dengan anak- anak kita yang lucu .
Masalahnya, oh, saat ini aku tidak sanggup mengungkapkannya. Biarlah besok lusa kuterangkan.
Aku tidak bisa berharap banyak kamu akan percaya pada apa yang akan kusampaikan, tidak bisa pula bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa aku akan tahan melihat kau kecewa.
Tapi masih ada keyakinanku bahwa kamu tidak akan selamanya membenci aku setelah tahu aku pun sangat tersiksa.
Sekali lagi, maafkan aku.
Doaku , selalu.
Nur
“Munafik !”
Dugg !
Habis memaki, tinju Yar menghantam dinding kamar. Wajah pemuda itu merah padam. Kemarahan, kekecewaan, kepedihan menumbuk- numbuki batinya.
“Jalang ! Penghianat !” Umpatnya sangar.
Bias kuning pucat matahari senja yang menerobos jendela di hadapan lelaki empat puluhan itu makin mempertegas rona mukanya yang menegang.
Dugg ! Sekali lagi kepalannya menubruk keras dinding tembok itu.
“Yar, suara apa itu ?!”
Yar menoleh ke pintu yang segera terbuka dan menampakkan emaknya yang menatap dengan tanda tanya.
“Surat dari perempuan lagi ? Kecewakan kamu lagi ?” Meluncur pertanyaan dari bibir perempuan tua itu. Tapi di telinga Yar bukan pertanyaan yang mendarat. Si Emak mengejeknya !
“Emak keluar saja.” Sahut Yar, datar.
Kertas surat yang ia genggam kini diremas- remasnya. Sesaat kemudian sebentuk gumpalan melayang ke genangan bekas hujan di halaman samping.
Emak terkekeh. Sinis.
“Kalau bapakmu masih hidup, dia akan akan kecewa sekali melihat turunannya banci.”
“Emak keluar saja.” Balas Yar agak keras.
“Memalukan. Tiap ada masalah dengan perempuan selalu mengurung diri, selalu meninju- ninju tembok kamar, selalu meratapi nasib …”
“Tolong Emak biarkan saya sendiri !” Sentak Yar lebih keras, menegaskan ketidaksenangannya pada kalimat- kalimat yang dilontarkan emaknya.
“Lalu kau maki tiap perempuan yang mengecewakan itu. Kau salahkan Sumi, Zubaedah, Nur ! Kau pikir tak ada kesalahan pada dirimu sendiri. Kau itu terlena dengan kebesaran diri sendiri, lalu kau angkuh, lalu seenaknya menghukum orang lain yang tanpa kau sadari memunculkan kebencian orang- orang padamu.
Tidak ada orang tua yang akan membiarkan anak gadisnya tersisih dari masyarakat karena menjadikan kamu suami ! ”
Tangan Yar gemetar. Mengepal.
“Kau tinjulah dirimu sendiri ! Tinju keangkuhanmu!”
Tajam mata Yar menyorot emaknya. Tapi perempuan itu berbalik dan meninggalkan pintu kamar.
Yar menghempaskan tubuh kurus pendeknya ke dipan. Tapi sebentar, ia bangkit dan berdiri lagi, membuka lemari, mengambil tas besar, memasukkan beberapa potong pakaian, buku- buku, setumpuk kertas, balpoin, laptop dan topi.
Pandangannya terhenti sejenak pada tulisan bordir di kening topi itu. AKHYAR. Di bawahnya, KOMUNITAS SATRAWAN KIRI.
Selanjutnya dengan langkah bergegas ia tinggalkan rumah.
*
Dering keras hp di atas dipan di samping Yar memecah keheningan kamar rumah panggung kecil itu, keheningan malam bukit tempat berdiri.
Yar menjangkaunya tanpa melepaskan tatapan ke layar laptop yang sudah dua jam lebih ia hadapi di lantai.
“Tunggu saja aku di situ !” Serunya gusar begitu hp ia genggam dan dispeaker. Tanpa salam terlebih dahulu.
“Sorry, Bos. Tinggal Mas Yar yang belum datang sampai saat ini.” Sahut lawan bicaranya. “Sudah kuat indikasi pemkab menyisihkan anak- anak komunitas dari daftar utusan Lomba Sastra Kayu Tanam. Teman- teman pengurus sepakat akan mengambil sikap keras. ”
Yar diam. Sinar lampu balon menyorot bibirnya yang menyunggingkan senyum sinis.
“Tahu ndak ? Opini bahwa kita kiri sekiri- kirinya sudah dikembangkan betul oleh petinggi- petinggi daerah yang sok cemas itu. Orang- orang pemerintahan, keamanan, kebudayaan dan elit- elit LSM mulai saling angguk.”
Yar masih dengan diamnya, dengan sinisnya.
“Gimana ini ? Tinggalkan kota kecamatan sehari dua hari, datang ke kota kabupaten, biar kita bisa bahas masalah ini !” Desak suara di seberang.
Yar justeru matikan hp dan meletakkannya kembali di dipan.
Alat komunikasi itu berdering lagi. Berulang- ulang. Yar tidak peduli, sampai berhenti sendiri.
Lolong anjing dari arah hutan belakang rumah dan ting tong jam di dinding hampir bersamaan mengisi sepi. Pukul tiga lebih.
Yar bangkit, membuka jendela. Udara dingin segera menyergap tubuhnya.
Pandangan Yar melayang ke angkasa. Kosong, beradu gelap citra langit. Pelan- pelan gerimis menegas dalam kabut. Tempias disapu angin musim penghujan yang menderas. Tempias ke wajah wajah pemuda itu. Guruh dalam batinnya.
Digeleng- gelengkan kepalanya, mencoba mengusir kehampaan yang memuncak. Tapi seperti sudah- sudah, kehampaan itu tetap tinggal dan mendera batinnya. Ujungnya ia cuma bisa mendesah.
Yar merasa jiwa dan tubuhnya begitu lemah sejak menerima surat putus dari Nur, empat hari lalu.
Gadis itu, yang begitu ia yakini kesetiaannya, pada akhirnya menambah pula daftar kekalahan buatnya. Kekalahan dalam meraih cinta sungguh- sungguh, kekalahan dalam perjuangannya menunjukkan diri sebagai lelaki yang dianggap oleh perempuan, dari saat ia bukan apa- apa di mata orang hingga setelah ia menjadi penyair dan wartawan ternama.
“Semua sama munafiknya.” Sentak hati Yar.
Semuanya menilai hubungan sebatas enaknya di pikiran dan perasaan mereka sendiri….
Aku dinilai angkuh ? Apa definisi angkuh itu ? Tampilan kesombongan, ketidakramahan, ketidakakraban, ketidakpedulian pada pikiran, perasaan dan keinginan orang lain, berdasar kebesaran diri, keakuan, egosentrisme ? Baik, aku iyakan saja. Aku yang hari ini telah menjadi penyair ternama dan wartawan disegani, melangkah dengan muka tegak lurus ke depan di tengah- tengah alam kota kecamatan ini dan manusia- manusianya, membanggakan bayang- bayang diriku sendiri yang menguasai penjuru. Kenapa tidak ? Bukankah wajah- wajar saja aku ingin menunjukkan kegemilangan diri kepada kecamatan ini dan manusia- manusianya yang dulu merendahkan aku dan keluargaku?
Kebesaranku, keangkuhanku telah membuat aku menghukum orang seenakku sendiri ? Orang- orang membenci aku ? Ya, ya, aku sadari itu. Aku sadari kebencian orang-orang sok berkuasa kecamatan, pejabat –pejabat kecamatan, pejabat- pejabat kabupaten yang terus- terusan dan akan selalu aku tikam dengan belati sajak dan beritaku. Bukankah itu yang seharusnya kulakukan ? Inilah perlawananku, perlawanan yang mestinya juga dilakukan penyair lain, wartawan lain , orang- orang lain dengan apa yang ada pada mereka, terhadap suasana – suasana busuk negeri ini, terhadap siapa pun, apakah itu warga biasa yang menekan warga lain karena kelebihan pada dirinya maupun pejabat- pejabat yang memunculkan kebusukan dengan tingkah pola mereka yang keranjingan bermain di balik aturan, perda, undang- undang ! Tak terasakah oleh Emak, betapa lembaga- lembaga pemerintah telah menjadi kandang serigala, yang pernah juga memburu beliau dan Bapak di ladangnya hingga harus berkali- kali berpindah, membuka kembali lahan baru di atas kenangan menyakitkan ladang lamanya yang siap panen tapi diratakan eskavator kontraktor pertambakan ? Rasa keadilan orang- orang tak berdaya, orang- orang miskin, pedagang kaki lima, kaum buruh, para petani kecil yang dicabik- cabik dalam ketidakberdayaan dengan kekuatan cakar serta aturan rimba yang dibuat- buat dalam lembaga itu ! Hei, inilah semangat pemberontakan, yang memang kubiarkan berkembang, agar mereka, orang- orang yang kulawan itu sadar bahwa di tengah rimba yang mereka cipta telah muncul kupu- kupu mutan, yang kecil, yang dipandang tak berdaya, namun berurat daging baja, dengan sayap- sayap yang dapat menjelma pedang- pedang tajam, yang mampu mengiris hati sombong mereka dan mencacah jantung- jantung keserigalaan mereka.
Duh, tidakkah pacar- pacarku, orang tua dan keluarga mereka mengamini dan menghargai ketidakangkuhanku terhadap mereka ! Aku penurut, lebih banyak mengalah pada mereka, dan mereka katakan sendiri aku lelaki yang pandai memanjakan perempuan sekaligus pintar mengambil hati orang tua dan keluarga mereka !
Mereka takut akan dijauhi orang- orang karena menjadikan aku suami, menantu seorang pemberontak ? Nampaknya baru namaku yang digurat angin sebagai mujahid di bentang padang jihad sosial negeri ini.
Ah, keangkuhanku, siapa pun tak tahu riwayatnya, bagaimana kelahirannya, bagaimana ia telah berjasa besar membuat aku merasa berharga di hadapan segala yang membuat aku dan keluargaku kalah di masa lalu. Termasuk di hadapan Ani, orang yang dulu pertama kali menendang aku masuk kubangan tinja !-
**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar