BAGIAN 2
Suryani, Ani, gadis tetangga.
Orangnya hampir sebaya dengan Yar, lumayan cantik, lembut, santun dan penurut. Pas sekali
untuk pemula seperti Yar yang baru berusia sembilan belasan, baru belajar
pacaran dan tentu saja belum kenal
banyak strategi untuk mengurus kecerewetan, tuntutan- tuntutan dan seribu satu
wujud ego perempuan.
Dua
tahun begitu indah bagi Yar. Ia
mendapatkan kepatuhan dan timbal balik manis dari buaian hatinya itu.
Yar puas. Sampai muncul niat Sang pecinta
mengawininya.
Takdir
menggariskan lain. Tanpa pernah ia duga, orang tua Ani menolak dirinya dan Ani masuk ke lingkaran pernikahan.
“Selama
ini kedekatan kamu dan Ani kami anggap
kedekatan kakak dan adik. Dan itu pengakuan Ani
sendiri.” Kata Sleman, bapaknya Ani ketika dengan gemetaran Yar
mengungkapkan hasrat melamar gadis itu.
Rasanya
Yar tak percaya dengan pendengarannya
sendiri.
Ani bilang
hubungan kami cuma kedekatan kakak dan adik ?!
“Benar kau bilang begitu pada bapakmu ?!”
Sentak Yar ketika bertemu Ani.
“Ya,
memangnya salah ?”
Merah
padam muka pemuda itu menerima jawaban Ani.
Jawaban yang menegaskan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya.
Kelu
kerongkongan Yar. Tak bisa berkata-
kata.
“Saya
tidak pernah menganggap Kakak sebagai pacar. Kakak menunjukkan kebaikan kepada saya. Saya pikir itu sekedar balasan Kakak atas
kebaikan saya juga. Saya bantu orang tua Kakak di sawah tanpa mau dibayar, saya
bantu emak Kakak kerja di dapur. Saat penyakit bapak Kakak kambuh, saya yang
diandalkan emak Kakak untuk ikut merawat. Ya, wajar- wajar saja karena kita
tetangga ! Lantas Kakak mengajak saya makan bakso, membelikan kebutuhan
kosmetik, menolong Bapak di sawah. Saya terima saja, apa salahnya ?!
Saya tidak berperasaan lebih
ketika kita jalan- jalan atau nonton bioskop. Pernahkan kita berduaan dan mesra- mesraan, yang
berlebihan ? Tidak, kan? Selalu ada teman perempuan saya yang ikut. Lagi pula
apa Kakak lupa bahwa Kakak tidak pernah mengucapkan kata cinta pada saya ?!”
Itu deretan kalimat pembelaan
diri Ani yang lebih sebagai ledakan bom di telinga Yar.
Yar tidak mampu memperpanjang pembicaraan. Kecewa,
malu, marah mencengkeram dadanya.
Apalagi ketika beberapa temannya mengetahui persoalan itu. Sindiran,
simpati yang mengejek, tiap hari mendera telinganya. Ujungnya sumpah serapah
pada diri sendirilah yang menggelora
dalam batin Yar, atas ketololannya
sekian lama, yang terlena dalam cinta sepihak, dalam keyakinan bahwa sikapnya telah menjatuhkan hati gadis itu tanpa harus
diawali dengan kalimat ’i love you’, plus berkeranjang- keranjang bunganya.
Ani kemudian akan
menikah dengan sepupunya.
Habis harapan Yar. Ia berjuang
memangkas dan mengubur bunga- bunga duri kegagalan. Pada akhirnya berhasil juga. Ia
maafkan Ani dengan berpegang pada
prinsip ‘bukan jodoh’, ‘menjaga persaudaraan dan ukhuwah’.
Sayangnya Ani kembali
menikamkan belatinya ke luka orang yang tulus mencintainya itu.
Selembar kertas yang dilipat
kecil ia lemparkan ketika Yar lewat
depan rumahnya.
Salam buat emakmu. Jangan
datang lagi ke rumahku seperti kemarin jika cuma hendak menyesali aku yang mengkhianati kamu, yang telah mengecewakan kamu. Calon suamiku mengancam
tidak akan jadi menikahi aku, sebab ia tidak senang emakku masih meladeni
pembicaraan tentang kamu dalam hari-
hari persiapan pernikahan kami.
Aku sadari bahwa memang
benar aku mengkhianati kamu, sebab selama ini aku pun memiliki perasaan sama
seperti yang kau rasakan. Aku juga telah menganggap kamu pacarku. Tapi apakah
salah jika aku berubah pikiran, jika akhirnya
aku mengikuti keinginan orang tuaku yang lebih
memilih sepupuku sebagai suamiku ? Mereka menginginkan agar harta kakek kami yang banyak tidak
berbagi ke rumpun lain, Yar. Aku rasa itu masuk akal. Makanya aku pun setuju.
Maaf, aku harus jujur, Yar,
aku pun tidak punya keberanian untuk bersuamikan lelaki yang
tidak mapan. Aku tak ingin rumah tanggaku tersisih dalam pandangan masyarakat
karena kemelaratan.
Tak
akan dilupakan seumur hidup oleh Yar
bagaimana emaknya menangis ketika membaca kata- kata itu.
“Maafkan
emak. Kemarin emak tidak bisa menahan
hati atas sikap Ani dan orang tuanya yang emak tahu pasti mempermainkan
kamu ….” Rintih perempuan itu.
Kepercayaan
diri Yar jatuh. Terlebih ketika beberapa
hari kemudian Ani melangsungkan pernikahan. Ia trauma dan memutuskan tak
berhubungan dengan perempuan. Ia pun
jarang di rumah. Waktunya lebih
sering dihabiskan di ladang, menyembunyikan kegalauan, mengalihkan perhatian dengan
merawat tanaman sayur- sayuran.-
*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar