Jumat, 18 September 2015

Puisi Empat



1. SEGELAS CENDOL
Di sini manis terus berpusar
Menyusun gelombang
Dan denting hasrat beradu dinding- dinding kaca
Dan dada kembali menampung rasa
Dan dada terus merayapi rasa
Nanti, esok
Ada yang bakal menagih- nagih rasa
Seperti itulah lumpur gula tersisa
Sebelum tandas diseka
Entah oleh siapa.


2. AKU SUKA BAHASA SEMUT
Ya, aku pun suka bahasa semut
Merindu gula- gula dunia
Dan mati rheda di laut gula.
Adakah kau tahu bahwa kau pun padaku menjelma gula ?
Dik, jangan marah
Jika aku betah bermimpi merayapi tubuhmu yang menggoda


3. AKU DAN TUHAN
Pada akhirnya lahan kacangku porak poranda dibaling- baling badai
Tinggal ranting- ranting runcing menuding langit
Tajam mengiris bayang- bayang bernas
Ada yang pelahan datang  sodorkan serangkum angin
Yang setengah jam lalu mengumpulkan uap air dan gumpalkan mendung
Menggesekgosokkan cuaca jadi lintasan api dan gemuruh
“Besok ada berjuta buah dari lahan lain !”
Air mata ini tak sanggup menjadi kaca kehadiran itu
Selain menitiki bayang- bayang badan yang tiba- tiba mengawang- awang.


4. RADIO PERASAAN
Mauku bersurat hanya buat satu lagu
Tengah malam
Chanel hantarkan gelombang dan tepat seperti hasrat
Untuk esok pagi
Aku bangkit dengan siulan ke kamar mandi.


Artikel Terkait

2 komentar:

  1. Puisinya dalem banget, sampai bingung menafsirkannya

    BalasHapus
  2. Masih belajar, Mas. Mudah-mudahan bisa terus bikin puisi yang lebih banyak. Salam.

    BalasHapus