
Panggung temaram, bersimpuh seorang bocah mendekap buku dengan mata sembab. Gemuruh panser, letusan bedil menyayat isak. Kian menyayat ketika angin meninggi siul, meredam hempasan ombak setelah alun tifa tertindih. Buku- buku jatuh di pelukan, berserakan atas kelap- kelip yang lantas diam dan mekar bersuar sorot latar. Berapilah muka, sumpah membakar gambar- gambar petinggi negeri yang bergerak bolak- balik seperti pendulum di tengah layar kelabu dimainkan tali hitam yang tak kelihatan ditingkahi lagu nyaring gramopon rusak dan pidato samar dalam radio serta gerabak- gerubuk kaki berlarian. Ia berdiri pelan- pelan, menulisi udara, menggapai- gapai wajah yang terus bergerak, dan ia pun bergerak seperti pendulum pula, sampai akhirnya kelelahan dan tersuruk. Gelap membalut tubuh kecilnya, membalut orkestra membagi- bagi suara. Gitar melengking, seruling menjengking, tabur membaur, sampai gaduh orkestra mengiring terang, terang sekali. Ia turuni pentasnya dalam kembangan kain penutup cerita yang abu- abu ....
1998
Tidak ada komentar:
Posting Komentar