Kamis, 24 Desember 2015

Monolog Bocah Ambon



Panggung temaram, bersimpuh seorang bocah mendekap buku dengan mata sembab. Gemuruh panser, letusan bedil menyayat isak. Kian menyayat ketika angin meninggi siul, meredam hempasan ombak setelah alun tifa tertindih. Buku- buku jatuh di pelukan, berserakan atas kelap- kelip yang lantas diam dan mekar bersuar sorot latar. Berapilah muka, sumpah membakar gambar- gambar petinggi negeri yang bergerak bolak- balik seperti pendulum di tengah layar kelabu dimainkan tali hitam yang tak kelihatan ditingkahi lagu nyaring gramopon rusak dan pidato samar dalam radio serta gerabak- gerubuk kaki berlarian. Ia berdiri pelan- pelan, menulisi udara, menggapai- gapai wajah yang terus bergerak, dan ia pun bergerak seperti pendulum pula, sampai akhirnya kelelahan dan tersuruk. Gelap membalut tubuh kecilnya, membalut orkestra membagi- bagi suara. Gitar melengking, seruling menjengking, tabur membaur, sampai gaduh orkestra mengiring terang, terang sekali. Ia turuni pentasnya dalam kembangan kain penutup cerita yang abu- abu ....


1998

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar