(Kepada Megawati)Malam yang menikahkan angin dan hujan
Melemparkan waktu kita dalam gelegak banjir
Dan pagi, semesta diributkan oleh tangis bayi cinta kedinginan.
Satu menuding rimba sepi yang kering
Dua berkeluh tentang saluran tersumbat
Tiga teriaki Tuhan yang berpaling
Empat aku yang bisu tak berucap
Lima, kau yang tersenyum menyusun rakit.
Tanpa bicara kau mengayuh
Tanpa suara kau melagu
Mekarkan surya ajaib atas mimpi kami yang basah dan tiba- tiba berapi.
Begitu heningkah semangatmu wahai pendiam ?
Lihatlah kami yang timbul tenggelam
Menggapai- gapai dalam riak telaga matamu.
Padamulah kini kami damai
Mendekap buntalan hati yang kadung lusuh separuh
Sampai tiba satu bukit, sama bersaksi tentang suratan lalu yang tamat
Menuliskan wasiat manis buat nurani dewasa negeri ini
Dengan nama dan tanda tangan hangatmu.
2002
Tidak ada komentar:
Posting Komentar