Selamat malam sahabat. Aku tulis surat ini di bawah bukit bulan, saat engkau, purnama, sudah sungguh- sungguh berpelukan dengan musim. Sementara cuaca membasahi semua kata, terpelanting jemari yang dengan geletar rapuhnya mengusung pensil.
Mata merangkaki kuburan, menjengkal panjang liang yang kemarin tergali, meraba batu yang selalu menjamuku dengan langgam silir saat bersandar merangkai puisi. Agaknya sesaat lagi bakal jadi nisan.
Timbunan lalu di tengah- tengah, nokturnal menunggu waktu, ajal sudah jauh. Apa yang kau kirim buatku ? Wajah embun mengantar beku, muka bintang mengerlip bisu, nafas angin keliwat gagu, menit penghabisan menggantung udara biru, anjing melolong pilu, menampar kepak burung- burung hantu.
Matilah aku, matilah aku. Habislah gemuruh dimandikan gerimis, diam dikafani serenade, terkubur di juntai akar melati. Satu tangkai guguran bunga, redakah jatuh dari rasa ?
Aku datang malam ini sahabat. Merayapi kecemasan yang kian berduri. Maka jangan tertawa ketika di pintu kau sambut cerita lama, darah dan muka jingga. Mungkin inilah muka hantu, yang setahun lebih menghantui rumah rahasiamu.
Jangan ajak aku masuk. Biarlah tubuh menjaring angin, menikmati kebiasaan sejak kita berkenalan. Aku tak sanggup mendudukkan diri dalam cahaya, demi gulita, kasihku. Dada pun jangan dipaksa menghirup aroma janur, di sini membusuk gumpalan nanah, di sini masih terpendam kehendak menjauhkanmu dari luka.
Pandanglah bingkisan yang kubawa, sepotong kain dari negeri biru, yang beralam biru, berkali biru, berawan biru, bertuliskan dongeng biru matahari biru yang hendak disunting jadi lampu oleh fantasi belibis yang ragu- ragu. Tempatnya ombak abadi mengguruh.
Kutaruh di bawah kakimu saja. Di bawah kakimu, jauh dari hati, agar kau tak sampai kerasukan. Besok, saat kau dan musim bersiram matahari pagi, kado ini sudah menghilang, sebab begitulah pemberian hantu, dan tak bakal ada yang terusik atau ketakutan.
Bahagialah sahabat. Kukirim surat ini setelah terkapar kembali di pantai. Pancaroba ingkar, tak diamkan gelombang. Perahuku terjengkang, sementara sebuah kapal telah mencapai horison, dan aku paling takut memandang lambaian ....
2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar