Biru jilbabmu malam itu, samar pandanganku saat darah cekam kepalaKenapa cuaca tak sekutu, alirkan angin pendorong pintu rahasia ?
Biru jilbabmu malam itu, camar menari di ranting kata
Patah menikam kesima mata puyuh
Terbang, menyanyi di pucuk kalatida.
Buta lelaki, tongkat direbut kabut
Kasih pertama melambai di kuburan
Tempat mengharum aroma maut
Lelap memeluk batu nisan.
Buta hati, mendera, deralah. Tawar bagiannya yang tak mengerti rasa
Buta hati, meringis, meringis- ringislah
Tak tegas tawa atau tangis
Nasib menipis jadikan isteri kau yang manis ....
2001
Tidak ada komentar:
Posting Komentar