Tuhan, Kau ludahi aku sore itu lewat guyuran hujan yang lengangkan jalan. Tinggal angin. Tinggal dingin memutar cepat jam empat ke kutub malam.Hidup terisap. Dari elang patah sayap. Darahnya jadi puisi lagi. Berakar, beranting, berbunga kata- kata gelap.
Tiadakah Kau sisakan cinta untuk lahirnya pancaroba ? Jam empat itu Kau tahu, ada hati langit yang bakal tersaji di pinggan sunyi. Diasapi tungku bumi rasa yang menjolok nikmat kemana- mana. Sedetik saja, sajak ini tak bakalan mengotori ruang hening-Mu.
Jam empat itu, kunfayakun-Mu telah Kau kulum. Kalau terlepas, suara ini tak bakalan menggumpal jadi gerutu, jadi taring dalam mulut nasib, yang merobek- robek lagu indah baru jadi.
Sore itu aku ludahi bayang kekasih di muka Engkau. Kusumpahi jalan- jalan hujannya, biar lengang, biar tak terlewati angin, biar mati dibalut dingin, tertinggal cepat oleh putaran jamnya sendiri, terlipat lekat malamnya sendiri, mengambang kehilangan kutubnya sendiri. Atau kalau bisa sumsum asmaranya terisap, dilibas sayap- sayap elang sampai jiwanya patah, kutadah puisi laranya dengan lautan gelegak darah, berakar baginya gelap, bercabang batinnya gelap, kata- katanya dibungai cuaca senyap.
Akankah Kau peruntukkan baginya satu kelahiran ketika pancaroba telah mencampakkannya jadi sisa ? Beritahu kepada hati itu bahwa pinggan telah kubuang, sunyi telah kusajikan kembali kepada isteri pertama yang pengertiannya melangit, tak peduli waktu, masih tak sebanding dengan empat sekali pun yang lain. Tungku cintanya tak berasap, hangatkan bumi dengan rasa manis buat jangkauan dari mana pun. Tiap detik ia bisa juga bertasbih sebagai keheningan yang kudus. Dialah sajakku, penggenap hidupku, yang pasrah pada jamku, pada jam-Mu, pada suaraku, memasrahkan aku pada kunfayakun-Mu, memecah gerutu, meluruhkan taring, menjelmakan harapan terindah, menyatukan jiwa dengan nasib dalam lagunya yang tak pernah tak jadi.
2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar