(1)Pada giliran-Nya
Kasih merayu dari cabang- cabang puisi
Dengan kelepak yang melibas daun- daun,bunga- bunga
Menyisakan cuaca kental getah.
Pada giliran-Nya
Cinta luruh dari dinding- dinding mimpi
Tumpuki sayap-sayap patah yang dilipat kata- kata
Kesadaranku telah dikait jarum jam yang berputar tak henti
(2)
Pada gilirannya Ia merayu dari cabang- cabang puisi
Dengan kibasan- kibasan angin menajam
Memangkas tuntas daun dan bunga
Sisakan senja kental getah.
Lantas jeritan burung jantan
Layarkan gelora ke lipatan malam
Peluh merendam eranganku
Kehilangan keperkasaan
(3)
Ini hari tahun 2005
Kunang- kunang dan serangkum angin tempias jendela
Hinggapi ranting- ranting rasa
Tarian lidah api
Ketika lilin kusulut.
Ini tengah malam
Riuh terompet membaur debur
Dan lengking pilu seruling pelaut pantai surut
Batu- batu ia lontarkan dengan gemas ke ruang hampa
Tak ada yang pecah
Selain dada sendiri dan bayang fajar yang terbakar
(Empang, malam tahun baru,2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar